Pidato Politik Megawati: Perempuan Jangan Jadi Sekadar Konco Wingking

POLITIK | 10 Februari 2019 18:39 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri menyampaikan pandangan politiknya tentang peran perempuan dalam kancah politik Indonesia terkini. Pidato politik Megawati, memiliki kesesuaian pandangan dengan Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno dalam buku Sarinah yang memberikan dukungan perjuangan pergerakan perempuan Indonesia.

Pandangan yang menegaskan independensi perempuan dalam pilihan politik itu disampaikan oleh Megawati saat Jambore Kader Komunitas Juang DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah di GOR Satria Purwokerto, Minggu (10/2).

"Perempuan jangan jadi sekadar konco wingking," kata Megawati yang berarti perempuan bukan semata teman di belakang laki-laki.

Peran perempuan dalam politik Indonesia, ia tegaskan mesti mendobrak sistem patriarki. Ia pun menegaskan, setiap kader PDI Perjuangan tak boleh membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Megawati tak segan mendisplay pengalaman pribadinya di hadapan kader PDI Perjuangan, yang berani bermimpi untuk berkiprah dalam politik, menjadi Ketua Partai dan menjadi Presiden Indonesia.

"Derajat laki-laki dan perempuan setara," tegas Megawati.

Di hadapan Kader Komunitas Juang PDI Perjuangan yang rata-rata masih berusia belia, Megawati sempat berseloroh para remaja perempuan mesti mau meninggalkan pacar yang punya pandangan patriarkal. Atau dengan kata lain, jangan menjalin hubungan dengan laki-laki yang masih memandang rendah perempuan. Perempuan ia katakan mesti terus mengembangkan kemampuan nalar dan berpikir.

"Jangan takut bermimpi. Sejak kecil saya sudah membangun impian-impian, dulu saya pernah bermimpi ingin menjadi perawat," ujar Megawati.

Soekarno sendiri, dalam bukunya Sarinah yang merupakan kumpulan bahan Bung Karno dalam kursus wanita menjabarkan pemikirannya tentang perempuan. Wacana utama pemikiran Soekarno terkait kritik terhadap keadaan di masyarakat yang merendahkan harkat dan martabat perempuan. Ia juga mengkritik pandangan yang menganggap bahwa kaum laki-laki dipersepsikan "lebih mampu" dibanding perempuan.

Di dalam buku Sarinah, Soekarno membuka Sarinah dengan cerita seorang istri yang tidak boleh keluar menemui tamu suaminya. Kewajiban istri adalah melayani suami, mengurus anak dan berada di dapur. Soekarno memandang, sikap yang seakan memposisikan perempuan sebagai mutiara, sebenarnya justru merusak atau mengurangi kebahagiaan perempuan. (mdk/bal)

Baca juga:
Megawati Ancam Pecat Kader PDIP Yang Terbukti Sebar Hoaks
Megawati: Rakyat Ditebar Kebencian, Orang Ditakuti Jangan Memilih Jokowi
Bupati Kotawaringin Timur Tersangka Korupsi, Politisi PDIP Tegaskan Sikap Megawati
Kisah Cinta Megawati dan Taufiq Kiemas Akan Diungkap Dalam Film Taufiq
Amien Rais: Prabowo Pernah Cawapres Megawati, Kalau Mau Ungkit Masa Lalu Bisa Dahsyat
Usai Bebas, Ahok Sempat Temui Megawati Ucapkan Selamat Ulang Tahun

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.