Prabowo Kalah Telak di Jateng Karena Banteng Merasa Diusik

POLITIK » MAKASSAR | 23 April 2019 12:33 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno kalah telak di Jawa Tengah. Hal itu terlihat dari hasil hitung cepat lembaga survei dan real count sementara KPU RI melalui C-1 di Situng (sistem informasi penghitungan), Selasa (23/4).

Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto menilai, kemenangan telah Jokowi-Ma'ruf mengalahkan Prabowo-Sandi, karena banteng merasa diusik. Sebab, selama kampanye Pilpres 2019, Jateng disebut menjadi lahan pertempuran yang akan diprioritaskan oleh Prabowo-Sandiaga.

"Salah satunya karena banteng yang biasanya hanya merumput diusik dengan serbuan pemberitaan yang luar biasa seolah Jateng sudah dikuasai oleh posko-posko 02 (Prabowo-Sandi)," jelas Bambang kepada merdeka.com.

Bahkan, banteng merasa tak senang dengan wacana akan ada posko Prabowo-Sandi sampai tingkat RT. Tapi kenyataannya tidak sampai demikian. Fakto ini yang membuat Jokowi menang telak.

"Kan secara gencar diberitakan akan membangun posko sampai ke tingkat RT. Itu salah satunya," terang Bambang.

Selain itu, masih banyak faktor yang menurut Bambang, Jokowi bisa unggul jauh dari Prabowo.

"Yang utama ya karena Jokowi terlalu dicintai oleh rakyat Jateng," tutup dia.

Dari real count sementara KPU, Pukul 12.20 WIB, Jokowi-Ma'ruf mendapatkan 3.144.159 suara. Sementara Prabowo-Sandiaga 939.654 suara. Dari total DPT Jateng sebanyak 27 juta pemilih.

Sebelumnya, Sekretaris DPD Gerindra Jawa Tengah, Sriyanto Saputro mengakui jagoannya 'babak belur' di wilayah yang biasa disebut kandang banteng tersebut. Namun, dia melihat sejumlah kejanggalan terjadi dalam proses pencoblosan pada 17 April lalu.

Sriyanto mengatakan, saat ini dirinya tengah mengumpulkan bukti-bukti kecurangan di Jawa Tengah. Saat ini tim tengah bekerja mengumpulkan hal tersebut untuk segera ditindaklanjuti.

"Termasuk dugaan money politics gila-gilaan. Ada juga seperti yang terjadi di Boyolali nyoblosi surat suara, kemudian yang lain ada rekapan salah entry data, tapi yang paling besar, tapi kami belum bisa menyimpulkan, banyak info adanya serangan fajar," jelas Sri kepada merdeka.com.

Dia melihat ada dugaan money politics yang sangat masif terjadi di Jawa Tengah. Dia tak menyebut angkanya, tapi menurutnya, politik uang yang dilakukan di Jateng tidak masuk akal.

"Hampir merata (terjadi politik uang), bukan kita cari kambing hitam, tapi fakta kami dapat seperti sangat masif terjadi. Itu istilahnya untuk memikirkan saja kami enggak mampu, baru kali ini selama pemilu terjadi yang seperti ini," terang Sri.

Terkait tuduhan tersebut, Sri menegaskan, pihaknya kini tengah mengumpulkan bukti-bukti adanya berbagai kecurangan. Bahkan, kata dia, caleg-caleg dari Partai Gerindra, tak mampu melawan money politics yang terjadi tersebut.

"Caleg kami tidak berdaya, akan kita dalami informasi itu," tutup dia.

Namun hal itu dibantah tegas oleh Bambang Wuryanto. Dia merasa tuduhan politik uang di daerahnya tidak masuk akal. Terlebih, jumlah DPT di Jateng sebanyak 27,9 orang. Dia mempertanyakan, siapa orang yang mau mengeluarkan duit sebanyak itu.

"Yang dipakai money politik itu uangnya siapa? Pemilih 27,9 juta lho. Mau dikasih uang berapa? jelas Bambang.

Dia pun curiga, bahwa tuduhan ini terjadi karena orang yang menuduh itu biasa melakukan politik uang. Dia menegaskan, PDIP tak memakai cara curang untuk memenangkan pertarungan di Jateng.

"Saya khawatir yang menuduh tersebut pernah melakukan money politik dan menang," tambah Bambang lagi.

Baca juga:
Sri Mulyani Cari Celah APBN guna Bantu BPJS Kesehatan Petugas Pemilu
Sesak Napas Usai Kawal Pemilu, Anggota KPPS di Bogor Meninggal Dunia
Prabowo Kalah Telak, Gerindra Temukan Politik Uang Gila-gilaan di Jateng
Ketua DPR Desak Pemerintah Segera Beri Santunan Petugas KPPS Gugur di Pemilu 2019
Kekalahan di Sumatera oleh Prabowo, Dibayar Lunas Jokowi di Jawa Tengah
Ketua RW di Panakkukang Makassar Mencoblos Dua Kali di Pemilu 2019
Penjelasan KPU soal 4 Ton Form C1 Pemilu Ditemukan di Kantor Media

(mdk/rnd)