Ragu Jokowi dan keinginan PKS tingkatkan elektabilitas Prabowo

POLITIK | 16 September 2017 05:51 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Mengaku masih menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi terkait uji materi pasal presidential threshold di UU Pemilu, PKS menyiapkan strategi alternatif jika tidak bisa mencalonkan kader sebagai capres di Pemilu 2019. Sosok Prabowo Subianto akan diusung PKS karena selama ini kerjasama dengan Gerindra berlangsung sangat baik.

"Kalau untuk Pilpres kami menolak presidensial treshold 20 persen itu, nanti bagaimana keputusan MK saya belum tahu. Tapi kalau keputusannya 0 persen akan maju sendiri, kalau keputusan 20 persen kami harus melakukan pemeriksaan cermat," kata Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (15/9).

Ditanya kenapa tidak merapat ke Jokowi, Hidayat mengungkapkan selama menjadi presiden, Jokowi belum berhasil merealisasikan janji kampanyenya pada saat maju pilpres 2014.

"Salah satu penghitungannya apakah memang Pak Jokowi melaksanakan janji-janji kampanye 2014 lalu, terlalu banyak yang beliau tidak kerjakan dan atau beliau sukses menjalankannya," kata Hidayat.

Di sisi lain, lanjut Hidayat, PKS masih fokus mempertimbangkan Prabowo sebagai capres di bursa pilpres 2019. Wakil Ketua MPR itu mengatakan, PKS akan terus berusaha meningkatkan elektabilitas Prabowo.

"Tentu kami juga harus mempertimbangkan faktor Pak Prabowo yang sekutu kami yang selama ini selalu bersama-sama dan berharap persekutuan ini bisa berlanjut, bisa meningkatkan kinerja Pak Prabowo, meningkatkan elektabilitasnya, meningkatkan ketokohannya sehingga rakyat wajar memberikan pilihan ke Pak Prabowo," ungkapnya.

Sebelumnya, berdasarkan hasil survei yang dirilis lembaga Centre For Strategic and International Studies (CSIS) pada Selasa (12/9), Joko Widodo diperkirakan akan menghadapi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 mendatang. Keduanya berada di urutan pertama dan kedua tingkat elektabilitas.

Berdasarkan survei yang diambil dari sampel sejumlah seribu orang dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin error sekitar 3,1 persen dari tingkat kepercayaan sebesar 95 persen itu tingkat elektabilitas Jokowi mengalami peningkatan menjadi 50,9 persen.

Jumlah itu lebih besar dari dua tahun sebelumnya yang dapat diartikan terjadi peningkatan yakni 36,1 persen pada tahun 2015 dan 41,9 persen pada tahun 2016. Sementara di posisi kedua hasil survei CSIS Prabowo mendapatkan suara sebesar 25,8 persen atau mengalami fluktuasi dibandingkan dua tahun ke belakang.

Ketua Umum Partai Gerindra itu memperoleh elektabilitas sebanyak 28 persen pada 2015 dan menurun menjadi 24,3 persen pada tahun berikutnya.

CSIS meramalkan dua sosok itu akan menjadi lakon utama "head to head" pada Pilpres 2019 seperti pada Pilpres 2014.

Pasalnya tokoh-tokoh lain yang diharapkan meramaikan kontestasi memperoleh elektabilitas jauh di bawahnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono, Gatot Nurmantyo, Tri Rismaharini, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Basuki Tjahaja Purnama, dan lain-lain.

Baca juga:

Hanura: Jika Pemerintah makin berprestasi, tak perlu khawatirkan Pemilu 2019

PKS pertimbangkan usung Prabowo Subianto di Pilpres 2019

SBY minta pemerintah gelar Pilkada-Pemilu yang jujur dan demokratis

Ketum PPP ungkap sederet alasan dukung Jokowi di 2019

Jokowi bersiap Pilpres 2019, capres lain kemana?

Jokowi panaskan mesin jelang Pilpres, Fahri minta capres lain jangan mau kalah

(mdk/bal)