Hot Issue

Saat Ganjar Pranowo Salip Elektabilitas Anies Baswedan

Saat Ganjar Pranowo Salip Elektabilitas Anies Baswedan
POLITIK | 9 Juni 2020 10:26 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Pilpres 2024 memang masih jauh, tapi 'getaran' kontestasi sudah berasa sejak sekarang. Apalagi, sejumlah lembaga survei telah memanaskan dengan tingkat keterpilihan para calon yang diprediksi kuat ikut pertarungan.

Sederet nama beken didaulat menjadi calon kuat di Pilpres 2024. Mulai dari Gubernur DKI Anies Baswedan, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Hingga Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Sandiaga Uno.

Teranyar, survei Indikator Politik merilis persaingan ketat tingkat elektabilitas antara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo di urutan kedua. Ganjar sukses menyalip Anies melalui isu virus Corona.

Ganjar mendapatkan torehan elektabilitas 11,8 persen karena dianggap mampu ‘memanfaatkan panggung’ menjadi citra positif. Sementara Anies turun menjadi 10,4 persen. Survei dilakukan 16-18 Mei.

Di urutan pertama masih ditempati Prabowo Subianto dengan 14,1 persen.

Pada tiga bulan lalu, atau tetapnya Februari, Indikator Politik juga telah memotret elektabilitas para calon kuat Pilpres 2024 itu.

Anies Baswedan masih di atas Ganjar Pranowo. Anies mendapatkan, 12,1 persen, sementara Ganjar hanya 9,1 persen.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, dalam dua bulan terakhir kepala daerah mendapatkan panggung karena penanganan Covid-19 tidak hanya dimonopoli oleh pemerintah pusat.

"Covid dapat mengubah peta elektoral karena menjadi lahan kepala daerah menunjukan taringnya," kata Burhanuddin dalam pemaparan survei secara daring, Minggu (7/6).

Satu lagi kepala daerah yang elektabilitasnya naik yakni Ridwan Kamil. Pada Februari lalu, elektabilitas Kang Emil hanya 3,8 persen, kini menjadi 7,7 persen.

Sementara tokoh-tokoh non kepala daerah seperti Menhan Prabowo, mantan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno, hingga Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono AHY cenderung menurun. Dua tokoh ini tak mendapat panggung di tengah pandemi Covid-19 lantaran tak punya jabatan publik.

Sandiaga elektabilitas pada Mei 2020 sebesar 6 persen, turun dari 9,5 persen pada Februari 2020. Sementara, AHY turun menjadi 4,8 persen pada Mei 2020 dibanding pada Februari 2020 pada 6,5 persen.

1 dari 1 halaman

Anies Dibandingkan Ganjar

Gaya Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo memang sempat dibanding-bandingkan dalam penanganan Covid-19. PDIP menilai, Ganjar lebih sigap turun ke lapangan ketimbang Anies Baswedan.

Langkah komunikasi seperti yang ditempuh Ganjar itulah yang dalam pandangan Politikus PDIP Johnny Simanjuntak, belum dilakukan Anies. Padahal pengawasan kebijakan berada di unsur pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat, seperti RT/RW.

Jhonny mengkritik Anies yang tidak turun langsung ke tengah masyarakat, baik untuk mengecek pelaksanaan kebijakan Pemprov maupun untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

"Ini yang harus kita pikirkan. Bagaimana kita mendidik masyarakat dengan momentum relaksasi ini betul-betul penegasan tapi juga sosialisasi. Sosialisasi yang bersifat humanis lah. Gaya-gaya Ganjar (Ganjar Pranowo) itu lah, Jateng. Turun," kata dia kepada wartawan, Senin (18/5).

"Kan Pak Anies tidak mau turun ke lapangan, dia bicara di TV melulu. Padahal sebenarnya basis pengawasan kita itu basis untuk mendidik masyarakat di RW," ujar dia.

Merespons itu, partai Gerindra menilai, bahwa setiap pemimpin punya karakter berbeda.

"Setiap orang punya gaya yang berbeda-beda dan juga setiap pemimpin daerah menyesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang dipimpinnya," kata politisi Partai Gerindra, Andre Rosiade, Selasa (19/5).

Andre menuturkan, Ganjar memang terlihat lebih sering turun ke lapangan. Bahkan mengecek bagaimana isolasi yang dilakukan masing-masing desa terhadap perantaunya.

"Tapi Mas Anies juga terlihat bukan hanya berpidato, beliau juga ke lapangan bahkan baru baru ini kita menyaksikan juga Mas Anies menyiapkan ruangan khusus atau tenda khusus warga Jakarta," ucap anggota Komisi VI DPR ini.

Sementara Partai Demokrat menilai, untuk membandingkan keduanya tidak bisa subjektif dan harus ada metodologi yang jelas.

"Bagi saya membuat studi komparatif basisnya tidak boleh subyektif. Harus dengan metodologi dan parameter yang berimbang dan utuh, dilakukan oleh pihak yang independen, netral dan punya kompetensi. Selain itu juga harus dipertimbangkan untuk apa. Karena tanpa itu semua hasilnya cenderung subyektif," kata Anggota DPR-RI Fraksi Demokrat, Didik Mukrianto, Selasa (19/5).

Di luar dari itu, Didik pribadi menilai tidak bijak untuk membandingkan dan mempertentangkan langkah para pemimpin atau kepala daerah. Apalagi daerahnya juga berbeda.

Dia menjelaskan, gaya dan strategi memimpin adalah ciri kas yang dimiliki setiap pemimpin. Kondisi geografis dan demografis daerah yang berbeda juga tidak bisa dijadikan pembanding secara pas.

"Jangan pernah berpikiran sempit terhadap personality atau kepribadian pemimpin. Setiap pemimpin punya gaya, punya strategi yang berbeda-beda, juga punya keberhasilan dan legacy yang berbeda-beda," ucap dia. (mdk/rnd)

Baca juga:
PDIP Soal Ganjar Melejit di Survei: Kami Catat
Survei Kinerja Jokowi-Ma'ruf Merosot, Istana Nilai Masih Batas Wajar
Golkar: Tak Semua Warga Suka Disuapi, Ada yang Mau Upskilling di Kartu Prakerja
Survei: Mayoritas Publik Minta Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Dibanding Ekonomi
Survei: Elektabilitas Ganjar dan RK Melejit, Anies Turun Karena Corona

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami