SBY diminta tak menyibukkan diri dalam isu kudeta

SBY diminta tak menyibukkan diri dalam isu kudeta
pameran senjata. ©Istimewa
POLITIK | 24 Maret 2013 18:10 Reporter : Muhammad Sholeh

Merdeka.com - Koalisi masyarakat sipil untuk reformasi sektor keamanan yang terdiri dari Imparsial, Kontras, YLBHI, Elsam, ICW, LBH Jakarta dan sejumlah organisasi lainnya mengutuk keras aksi penyerangan dan eksekusi empat orang di lapas Sleman, Yogyakarta. Tindakan itu tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun dan merupakan tindakan yang mengancam kehidupan demokrasi dan penegakan hukum.

"Amat berbahaya model eksekusi seperti itu jika di luar penegakan hukum. Di LP aja masih diuber apalagi di luar," kata Direktur Program Imparsial Al A'raf di Kantor Imparsial, Jakarta, Minggu (24/3).

Al A'raf menegaskan, aksi-aksi penyerangan dengan kekerasan terhadap tata sisten hukum tidak bisa dipandang sebelah mata oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tragedi di Sumatera Selatan dan di Yogyakarta seharusnya menjadi perhatian serius presiden.

"Bukan malah menyibukkan diri dengan isu kudeta apalagi disibukkan dengan politik internal partainya. Jika tindakan-tindakan kekerasan itu terus berlangsung maka Indonesia bisa masuk dalam situasi dan kondisi negara yang gagal (failed states)," jelas Al A'raf.

Oleh karena itu, pihaknya mendesak aparat kepolisian untuk mengungkap kasus penembakan tersebut secara terang benderang dan tidak boleh menutup-nutupi peristiwa penyerangan yang terjadi.

Aparat kepolisian harus berani membuka siapa dalang dan pelaku dari penyerangan tersebut. Penyerangan itu tentunya dilakukan secara terorganisir, terencana, terlatih dan memiliki kapasitas penggunaan senjata secara profesional.

"Hal itu terlihat dari cara penyerangan yang dilakukan secara sistematis, cepat dan taktis serta penggunaan persenjataan yang memadai, yakni senjata AK 47, FN dan granat," katanya.

Lebih dari itu, aparat kepolisian harus menelusuri secara mendalam sikap Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana yang menilai dugaan keterlibatan anggota TNI dalam penyerangan tersebut.

"Kami mendesak kepolisian untuk menelusuri pernyataan Wamenkum HAM, salah satu unsurnya TNI. Harus didalami secara serius pernyataan Denny itu," tandasnya.

Seperti diberitakan, empat tahanan tewas dan dua orang sipir Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman, Yogyakarta terluka setelah diserang belasan orang tak dikenal. Keempat tahanan itu merupakan pelaku penganiayaan yang menewaskan seorang anggota Kopassus, Sertu Santoso (31) di Hugo's Cafe Kota Yogyakarta.

Kejadian penembakan itu berlangsung sekitar pukul 01.30 WIB, dimulai dengan kedatangan belasan orang bercadar ke dalam Lapas. Dengan menggunakan penutup muka berwarna hitam, para pelaku melompati pagar setinggi sekitar satu meter.

Pria berbadan tegap itu lantas melumpuhkan sipir penjara, dan memaksanya untuk masuk ke dalam sel tahanan. Tidak berhenti sampai di sana, para pelaku meminta sipir pembawa kunci untuk memeriksa satu per satu sel guna menemukan sasarannya.

Tidak lama, mereka menemukan para pelaku yang tengah meringkuk di dalam sel. Tanpa basa-basi, belasan pria bercadar itu menembakkan senjata api ke arah para korban hingga tewas. (mdk/bal)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami