Sosok kontroversial jadi jubir tim pemenangan tak masalah, asal kuasai data

POLITIK | 15 Agustus 2018 05:31 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Sirojudin Abbas menilai, sejumlah sosok kontroversial dalam 100 juru bicara bakal paslon capres dan cawapres, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin merupakan hal yang biasa saja. Menurut dia, sejauh mereka dapat menguasai informasi dan data yang benar, maka, mereka dapat membantu kampanye untuk Jokowi dan Ma’ruf.

"Biasa saja. Sejauh mereka menguasai informasi dan data-data yang benar, mereka akan membantu kampanye Jojowi-Kiai Ma'ruf," ucap Sirojudin lewat pesan singkatnya kepada Liputan6.com, Selasa (14/8).

Beberapa orang yang cukup kontroversial tersebut merupakan pengacara. Adalah pengacara Farhat Abbas, pengacara Razman Arif Nasution, dan pengacara Sunan Kalijaga.

Lebih lanjut, Sirojudin mengatakan, para sosok yang dianggap kontroversial itu harus disiplin dengan materi informasi yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga harus bisa bertindak sebagai bagian dari keseluruhan tim.

"Tidak main sendiri dan beropini sendiri," kata Sirojudin.

Namun dia menilai, blunder dapat terjadi jika para juru bicara itu menyampaikan informasi yang keliru atau tidak berdasarkan fakta. "Pernyataan mereka akan dikutip media dan bisa diviralkan di media sosial," ujarnya.

Peneliti CSIS Arya fernandes menambahkan, beragam dan banyaknya sosok juru bicara kubu Jokowi dan Ma’ruf Amin merupakan konsekuensi dari politik akomodasi yang gemuk. Termasuk ketika menempatkan sejumlah nama yang kontroversi di tengah masyarakat.

"Karena terdiri dari banyak partai sehingga mereka dituntut mengakomodasi kepentingan-kepentingan partai ya," ujar Arya dihubungi terpisah.

Terkait soal juru bicara, Arya juga menggarisbawahi bahwa, juru bicara bukanlah soal banyak atau tidaknya jumlah atau sekadar populer. Namun, lebih kepada kompetensi, kredibilitas, pemahaman konten dari arah politik koalisi Jokowi-Ma'ruf, serta integritas dari para jubir itu sendiri.

Karenanya dia menilai, jika partai koalisi menempatkan sejumlah figur yang dianggap kontroversial, maka, mereka juga harus bersiap jika ke depannya terjadi suatu kontroversi.

"Jubir itu bukan soal keras-kerasan di televisi saja tapi soal konten. Jadi milih orang-orang kontroversial juga koalisi harus siap dengan kontroversial yang terjadi nanti gitu," kata Arya menjelaskan.

Namun berbicara tentang efektivitas menempatkan sosok yang kontroversial, Arya mengatakan, itu belum dapat diketahui hingga para jubir itu bekerja dan memberikan pernyataan-pernyataan politik mereka. "Efektivitas juga diukur setelah orang tersebut bekerja ya. Jadi itu risiko yang harus dihadapi," imbuhnya.

Reporter: Yunizafira Putri
Sumber: Liputan6.com (mdk/rzk)

Baca juga:
Ini kriteria Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin
Diusulkan jadi ketua tim pemenangan Prabowo-Sandi, ini kata Djoko Santoso
KPU: Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno lolos tes kesehatan
Wujudkan kejayaan maritim, Menteri Susi ajak mahasiswa UB dukung Jokowi
Bikin 'pasukan udara', relawan Jokowi siap lawan hoaks di dunia maya
Waketum Gerindra soal isu mahar Rp 500 M: Demokrat klaim Andi Arief berjalan sendiri

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.