Usung Calon Muda di Pilkada, PDIP Sebut Bukti Partai Terbuka Untuk Pemimpin

Usung Calon Muda di Pilkada, PDIP Sebut Bukti Partai Terbuka Untuk Pemimpin
PDIP umumkan calon kepala daerah di Pilkada 2020. ©Liputan6.com/Faizal Fanani
NEWS | 24 Juli 2020 20:15 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai, pihaknya menunjukan keterbukaan partai terhadap kepemimpinan muda. Buktinya, PDIP mengusung tiga calon kepala daerah dari usia muda pada Pilkada serentak 2020.

Calon itu adalah kandidat wali kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, calon bupati Jembrana Bali I Made Kembang Hartawan, serta Hanindhito Himawan Pramana di Kediri.

Hasto mengatakan, Kembang Hartawan merupakan tokoh yang walau masih berusia muda, namun sudah berpengalaman di politik dengan pernah duduk di DPRD hingga menjadi wakil bupati.

Sementara Hanindhito, kata Hasto, sejak masih kecil, sudah bersinggungan dengan kegiatan sosial dan politik. Karena ayahnya, Pramono Anung, sudah membawa Dhito kecil ke berbagai kegiatan partai.

"Juga Mas Gibran yang juga sempat mengejutkan banyak pihak karena memilih jalur politik dan kemudian juga masuk di Kota Solo. Tapi yang jelas semua ini menunjukkan bagaimana PDI Perjuangan membuka diri dalam kepemimpinan baik yang berasal dari dalam ataupun kepemimpinan yang diperoleh melalui proses rekrutmen," ujar Hasto saat membuka diskusi virtual 'Calon Kepala Daerah Muda Bicara Politik Dedikasi, Motivasi, hingga respons politik Dinasti', Jumat (24/7).

Acara diskusi tersebut menghadirkan Gibran, Dhito, dan Kembang sebagai pembicara.

Hasto mengatakan, sosok Gibran, Dhito, dan Kembang, bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda Indonesia agar berpolitik. Bahwa politik tidak hanya bicara mengenai kekuasaan.

"Tetapi juga politik ekonomi, politik dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menuju jalan berdikari," ucap Hasto.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, turut memberikan saran kepada bakal calon kepala daerah kalangan muda itu. Hendi hadir dalam diskusi sebagai penanggap.

"Tantangan pertama adalah biasanya ditanya, karena usia kita muda, bisamu apa, pengalamanmu apa. Enggak usah tanggapi begitu, bekerja saja tunjukkan kinerjamu. Jangan dengarkan yang meragukan," kata Hendi.

Hendri agar Gibran, Dhito, dan Kembang agar bersyukur diusung dari PDIP. Dia mengaku merasa beruntung, karena meskipun tak pernah berpengalaman politik, tapi saat ditugasi menjadi calon kepala daerah, diwajibkan mengikuti sekolah partai.

Di sekolah partai PDIP, kata Hendi, dirinya diajari cara me-manage APBD, ideologi partai, sejarah perjuangan partai, yang nanti diimplementasikan saat memimpin di daerah.

"Saya ingat salah satu mentor kami, Mas Djarot Saiful Hidayat. Beliau bilang, jangan lupa Hendi, APBD harus pro poor dan banyak gunakan untuk belanja langsung, bukan belanja tak langsung. Karena belanja langsung esensinya membangun kota. Dan itulah yang kita lakukan di Semarang," ucap Hendi.

"Lalu berkali-kali soal anggaran pro-poor ditekankan. Dimana masyarakat kecil bisa merasakan kehadiran pemerintah. Dari orang lahir sampai meninggal Pemkot Semarang harus hadir. Jadi melahirkan itu gratis, imunisasi gratis. Sekolah TK, SD, SMP gratis. Swasta sudah 40 sekolah digratiskan," ungkap Hendi.

(mdk/gil)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami