Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo
Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo Tokoh Pers, Pahlawan Nasional
Nama Lengkap
Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo
Alias
Tito Adhi Soerjo
Tempat Lahir
Blora, Jawa Tengah
Tanggal Lahir
-
Zodiak
-
Relation
-
Biografi

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo adalah perintis Pers Nasional Indonesia dan tokoh kebangkitan Nasional Indonesia. Ia juga dianggap sebagai orang yang paling berjasa atas bangkitnya pergerakan kaum terdidik di Indonesia. Meskipun lahir di daerah Blora, Jawa Barat, namun Tirto lebih lama tinggal di wilayah Bandung, Jawa Barat. sejak usia muda, ia rajin mengirimkan tulisan-tulisannya ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. Ia juga pernah membantu Chabar hindia Olanda pimpinan Alex Regensburgh selama dua tahun sebelum pindah menjadi redaktur Pembrita Betawi, Pimpinan F. Wriggers, yang tak lama kemudian digantikannya.

Pria yang memiliki nama kecil Djokomono ini mengenyam pendidikan di sekolah HBS Belanda dan meneruskan studin sebagai mahasiswa kedokteran di STOVIA, Batavia. Namun, karena lebih sibuk menulis di media masa, ia akhirnya tidak menyelesaikan sekolah dokternya. Di Bandung, Tirto mendirikan 3 surat kabar, yakni Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Poetri Hindia (1908). Karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia) dan seluruh proses produksi dan penerbitannya dikerjakan oleh pribumi asli, Medan Prijaji pun akhirnya dianggap sebagai surat kabar Nasional yang pertama kali terbit. Medan Prijaji begitu digemari oleh masyarakat pada waktu itu karena adanya satu rubrik khusus yang menyediakan penyuluhan hukum gratis.

Pada tahun 1906, dua tahun sebelum perkumpulan Budi Utomo lahir, Tirto telah mendirikan organisasi pribumi bercorak modern pertama yang diberi nama Sarikat Priyayi. Perkumpulan inilah yang kemudian melahirkan surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907. Bersama H.O.S Tjokroaminoto, ia mendirikan Sarikat Dagang Islam (SDI), yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam, pada tahun 1909 di Jakarta. Segala pemberitaan di surat kabar Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintah Belanda hingga tak jarang Tirto dibuang ke tempat terpencil selama berbulan-bulan. Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo meninggal pada tanggal 07 Desember 1918. Ironisnya, tak satu pun surat kabar di Negara ini yang memuat berita kematiannya.

Riset dan analisis: Nurrohman Sidiq