Cedera di Jari Bisa Jadi Tanda Adanya Kekerasan yang Dialami Anak

Cedera di Jari Bisa Jadi Tanda Adanya Kekerasan yang Dialami Anak
SEHAT | 17 Februari 2020 14:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Kekerasan terhadap anak merupakan masalah yang kadang sulit untuk dipecahkan. Tindakan yang dilakukan orangtua terhadap anak ini kerap terjadi di ruang tertutup yang luput dari pengawasan banyak orang.

Untuk mengetahui ada atau tidaknya masalah kekerasan pada anak ini, ternyata terdapat sebuah penanda yang mudah dikenali. Dilansir dari Medical Express, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rutgers menyebut hal ini bisa ditandai dengan adanya luka atau cedera di jari anak.

Diketahui bahwa pada anak yang mengalami kekerasan, sebanyak 23 persen lebih banyak mengalami masalah ini sebelum usia 12 tahun. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Hand Surgery Global Online ini merupakan yang pertama membahas hubungan antara kedua hal ini.

Data yang diperoleh pada penelitian ini berdasar laporan medis di New York. Terdapat 79.108 anak pada usia balita hingga 12 tahun pada 2004 hingga 2013 yang mengalami cedera jari baik cedera ringan hingga amputasi. Peneliti kemudian menganalisis hasil temuan tersebut dengan catatan kekerasan yang pernah dialami.

1 dari 1 halaman

"Kami mengetahui bahwa anak yang mengalami kekerasan fisik cederung lebih rentan mendapat perawatan cedera jari," terang peneliti Alice Chu dari Rutgers New Jersey Medical School.

Cedera jari bisa muncul ketika anak diperlakukan secara kasar atau mengalami hal lainnya.

"Tidal ada satu jenis cedera yang memastikan 100 persen bahwa anak mengalami kekerasan, namun seluruh faktor risiko kecil dapat ditambahkan. Karena cedera di jari sebagian besar disebabkan oleh orang lain baik sengaja atau tidak, hal ini merupakan sinyal bagi dokter untuk melihat riwayat kesehatan anak terkait pengabaian atau kekerasan fisik," terang Chu.

Dokter bisa menebak mengenai adanya kekerasan jika jawaban orangtua berkebalikan dengan anak. Selain itu ketika orang tua tidak langsung mencari pertolongan untuk anak atau saat pertumbuhan anak tidak konsisten dengan jenis cedera. (mdk/RWP)

Baca juga:
Mengapa Tidak Ada Anak-Anak yang Terinfeksi Virus Corona?
Waspada! 4 Hal ini Bisa Jadi Penyebab Munculnya Ruam Popok pada Buah Hati
Kenali Penyebab, Gejala, serta Cara Penanganan Penyakit Kawasaki pada Anak
Penyebab Serta Cara Ampuh Mengatasi Ruam Popok pada Bayi
Usai Operasi Celah Bibir, Terapi Wicara Bisa Jadi Cara Tingkatkan Komunikasi Anak

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami