Cyber Bullying yang Dialami Anak-Anak Bisa Sebabkan Trauma Jangka Panjang

SEHAT | 4 Oktober 2019 16:35 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Bullying atau perundungan di media sosial merupakan salah satu masalah yang muncul seiring kemajuan teknologi. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang panjang pada korbannya bahkan berujung trauma.

"Kalau dulu bully dilakukan secara langsung, bisa dari verbal maupun fisik. Tetapi sekarang, kita tidak perlu berada di ruangan yang sama, orang bisa mem-bully dan melukai perasaan seseorang," ucap pendiri Sudah Dong, komunitas gerakan anti-bullying Katyana Wardhana.

Kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial membuat seseorang terkadang lupa bahwa cyber bullying merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan memiliki efek jangka panjang.

"Media sosial bisa digunakan tanpa nama asli, itu membuatnya menjadi lebih mudah melakukan cyber bullying. Ini juga bisa berdampak jangka panjang, karena cyber bullying memang tidak menyerang fisik seseorang, tetapi menyerang hati (perasaan)," tambah Katyana dalam diskusi Aman di Media Sosial di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

1 dari 1 halaman

Bullying Timbulkan Masalah pada Anak

Dalam kesempatan yang sama, hadir juga Benny Prawira, pendiri Into The Light sebuah komunitas yang berfokus pada pusat advokasi, kajian, dan edukasi dalam pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa.

"Sejauh ini kita tahu bahwa bullying mau dengan cara tradisional atau pun online sangat memicu masalah kesehatan jiwa. Itu bisa membuat anaknya jadi cemas sekali bahkan tidak mau sekolah. Bahkan ternyata faktor yang paling signifikan dalam memicu pemikiran bunuh diri adalah bullying," jelasnya.

Katyana menambahkan, begitu banyak anak-anak yang takut untuk menceritakan pada orangtua dan guru-guru ketika menjadi korban bullying secara offline maupun online. Namun sebenarnya, kebanyakan orang-orang yang memiliki pemikiran bunuh diri sudah memberikan pertanda yang seringkali tidak disadari oleh lingkungan di sekitarnya.

Benny menyarankan, apabila ada orang terdekat yang memberikan sinyal bahwa dirinya sedang memiliki masalah, cobalah untuk menghubungi dan mengajaknya bicara.

"Lebih baik kita overestimate, daripada underestimate. Karena kalau overestimate dan kita salah, orang itu bisa selamat," tandasnya.

Reporter: Diviya Agatha
Sumber: Liputan6.com (mdk/RWP)

Baca juga:
Kondisi Intoleransi Laktosa pada Seseorang Bisa Disebabkan Kurangnya Susu Sejak Kecil
Balita Disarankan untuk Tidak Mengonsumsi Susu Berbahan Dasar Tumbuhan
Berbagi Cerita dengan Anak Bisa Bantu Perkembangan Otak Anak
5 Kesalahan Orangtua yang Menghancurkan Kepercayaan Diri Anak
Ini Alasan Mengapa Lebih Baik Hanya Memiliki 2 Anak
4 Manfaat yang Bisa Diperoleh dari Merencanakan Jumlah Anak Sebelum Kehamilan