Kenali 3 Bentuk Malanutrisi yang Rentan Dialami Pasien Kanker Anak

Kenali 3 Bentuk Malanutrisi yang Rentan Dialami Pasien Kanker Anak
Penderita kanker anak Honduras. REUTERS/Jorge Cabrera
SEHAT | 12 Oktober 2021 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Bagi seorang pasien kanker yang masih anak-anak, permasalah terkait nutrisi juga bisa mereka alami. Malanutrisi ini tidak hanya terjadi karena nutrisi yang kurang namun juga bisa terjadi karena nutrisi yang berlebih.

Dokter spesialis anak konsultan, dr Cut Nurul Hafifah SpA(K) menyebut bahwa pasien kanker anak rentan mengalami tiga bentuk dari malanutrisi, yaitu kurus, gemuk, atau pendek.

Malanutrisi secara definisi adalah gizi yang salah. Bentuknya bisa kelebihan nutrisi (gemuk hingga obesitas), kekurangan nutrisi (kurus), atau yang seringkali tidak disadari adalah pendek dibanding teman seusianya.

Seorang anak yang pertumbuhannya baik, kata Cut, berat badan maupun tinggi badannya harus sesuai kurva pertumbuhan. Inilah yang harus jadi perhatian para orangtua yang dikaruniai anak dengan kanker.

"Pasien kanker anak seringkali datang sudah dalam kondisi terlambat atau sudah stadium lanjut. Sehingga memang seringkali berat badannya sudah di bawah dari rata-rata atau panjang badannya sudah terpengaruh," kata Cut yang berpraktik di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam diskusi virtual bersama YOAI belum lama ini.

Beragam alasan seorang anak dengan kanker rentan mengalami malanutrisi. Bisa karena kanker itu sendiri maupun disebabkan terapi kankernya.

"Ada reaksi radang yang kemudian mengakibatkan berbagai hal. Bisa jadi under nutrisi, jadi kurus, atau besar, atau obesitas," katanya.

2 dari 2 halaman

Penyebab Terjadinya Malanutrisi pada Anak dengan Kanker

Kurangnya asupan lantaran pasien kanker anak gampang mual, muntah, dan tidak napsu makan, disebut Cut sebagai penyebab nutrisi kurang bisa terjadi.

Bisa juga karena metabolismenya naik, karena ada kanker membut tubuh anak membutuhkan energi yang lebih banyak.

"Berikutnya, anak itu memang sedang tumbuh. Sudah dia butuh energi buat tubuh, ditambah lagi metabolisme kanker, sehingga kebutuhan nutrisinya berlebih-lebih, jadinya mengalami gizi kurang," kata Cut.

Sedangkan untuk kasus over nutrisi, lanjut Cut, biasanya karena pasien pilih-pilih dalam hal makanan. Dan, seringkali yang dipilih adalah makanan yang 'kurang baik'.

"Maunya makan yang manis-manis, yang snack-snack, biskuit," katanya.

"Padahal itu pilihan makanan yang nutrisinya tidak lengkap," Cut menambahkan.

Penyebab lainnya karena kurang gerak. Terlalu seringnya ke rumah sakit untuk berobat atau terapi membuat anak jadi jarang bergerak. Bisa jadi juga kurangnya aktivitas fisik atau memang faktor lain, seperti hormon pertumbuhan (growth hormone) tidak berjalan baik akibatnya jadi kelebihan berat badan.

Lebih lanjut Cut, mengatakan, berdasarkan data anak dengan kanker yang mengalami malanutrisi di RSCM pada 2019---yang diambil dari Januari sampai Juni---ada 70 pasien dari usia tujuh bulan sampai 16 yang ternyata sebagian besar anak-anak yang mengalami malanutrisi itu kalau kankernya tipe tumor padat.

"Misalkan, tumor wilms, lebih sering tumor padat dibandingkan 'tumor cair' seperti leukemia," katanya.

"Kenapa? Karena massanya cukup besar sehingga mendesak ususnya, lambungnya jadi makannya cuma bisa sedikit. tapi ada juga anak leukemia yang hatinya membesar, limpanya membesar, sehingga tidak membantu proses makan," tandas Cut.

Reporter: Aditya Eka Prawira
Sumber: Liputan6.com (mdk/RWP)

Baca juga:
Cegah Mata Anak Bermasalah, Ketahui Rekomendasi Penggunaan Gawai
Orangtua Wajib Tahu Dampak Paparan Gawai yang Terlalu Lama pada Mata Anak
5 Hal yang Perlu Dilakukan Orangtua Sebelum Ijinkan Anak Lakukan PTM
Perubahan Perilaku Anak Usai Ditinggal Orang Tua Akibat Covid-19
Orang Tua Diminta Waspadai Psikologis Anak Akibat Paparan Stres Selama Pandemi
Penasihat Kesehatan: Pandemi Munculkan Anak Nol Dosis Imunisasi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami