Kiat Bermain dengan Anak saat Pandemi Covid-19

Kiat Bermain dengan Anak saat Pandemi Covid-19
Anak kecil. ©2012 Merdeka.com
SEHAT | 30 Juli 2021 09:11 Reporter : Titah Mranani

Merdeka.com - Semenjak wabah COVID-19 melanda, banyak sekali aspek kehidupan yang terdampak. Salah satunya adalah keterbatasan mobilitas. Tidak hanya orang dewasa, kalangan anak-anak juga tidak terkecuali. Aktivitas bermain dan belajar pun mengalami perubahan drastis.

Dilansir dari liputan6.com, Bundo Netti Herawati, Ketua Umum PP HIMPAUDI mengatakan sebagai langkah awal, perlu pemahaman yang benar tentang esensi bermain. "Anak belajar melalui bermain. Tanpa permainan yang tepat, pelajarannya bisa saja tidak dipahami," jelasnya dalam program INSPIRATO Hari Anak Nasional 2021.

"Hakikatnya, anak-anak bisa bermain di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja," sambung Bundo Netti. Menurutnya kegiatan bermain merupakan hal positif yang dilakukan anak atas inisiatif sendiri.

Dengan kondisi serba terbatas seperti saat ini, orangtua bisa menyiapkan dua lingkungan bermain untuk anak, yakni fisik dan non-fisik. Secara fisik, harus tersedia sarana dan alat bermain. Sedangkan non-fisik adalah bagaimana orangtua menciptakan kondisi yang memungkinkan anak untuk bebas bermain tanpa tekanan.

Bundo Netti menambahkan, "Kalau anak mengikuti mau orangtua saat bermain, berarti anak bekerja, bukan bermain. Di sini orangtua harus menghargai pilihan anak. Jangan serba enggak boleh saat mereka sedang bermain". Pun ketika lingkungan fisik dan non-fisik ruang bermain anak tidak kondusif, maka perkembangan sel otak tidak akan maksimal.

"Jumlah sel otak anak saat dewasa bisa selisih 50 persen dari saat mereka berusia 0--6 tahun. Hilangnya ke mana? Itu merupakan sel otak yang tidak terstimulasi," tandasnya.

Oleh sebab itu peran orang tua menjadi lebih vital di masa sekarang. Karena situasi yang mengharuskan anak hanya bisa dirumah saja. Untuk itu, seorang Life Coach, Rani Moran mengatakan, "Pertama, bagaimana menciptakan rasa aman dan stabilitas di rumah untuk mendukung kesehatan mental anak."

Lebih lanjut, Rani memaparkan, "Kemudian, membantu anak merasa aman, menjaga rutinitas sehat, juga mengelola emosi dan perilaku". Dan yang paling penting harus ada keterbukaan komunikasi antara orangtua dan anak.

"Jangan overprotective, nanti anak bisa stres. Lalu, hati-hati menjalankan pola asuh. Dialognya harus konstruktif dan berusaha menghadirkan kegembiraan di rumah," ucap Rani saat menambahkan bahwa penting bagi orangtua untuk lebih sering mendengarkan anak. Karenanya diharapkan untuk para orang tua agar lebih memahami dan bersedia untuk saling bekerjasama yang baik dengan anak.

Sumber: Liputan6.com
Reporter: Asnida Riani (mdk/ttm)

Baca juga:
Anak Juga Bisa Stres saat Pandemi, Perhatikan Ciri-Cirinya
Menjaga Lingkungan Agar Mental Anak Tetap Sehat Hadapi Pandemi Covid-19
Masalah Anak-anak SD yang Harus Diperhatikan, Bantu Optimalkan Tumbuh Kembang
Anak Usia 4 Tahun Masuk Paud atau TK? Simak Peraturannya
Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala, Gunakan Komunikasi Dua Arah
Penggunaan Gawai Anak Bisa Dibatasi dengan Aktivitas Bersama

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami