Memulai Urban Farming dari Sampah Dapur

Memulai Urban Farming dari Sampah Dapur
SEHAT | 6 Agustus 2020 20:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Anjuran tetap tinggal di rumah akikbat terdampak Covid-19 ternyata memunculkan banyak hobi baru digandrungi masyarakat. Salah satunya berkebun. Terlebih lagi ketika masa awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak masyarakat kesulitan akses untuk keluar rumah dan mendapat bahan makanan. Tidak jarang masyarakat menyiasatinya dengan berkebun di rumah atau urban farming.

Mendengar kata urban farming masih terasa asing di telinga beberapa masyarakat. Lantas apakah urban framing itu?

“Pada dasarnya prinsip urban farming adalah kegiatan menanam tanaman yang bisa dikonsumsi yang ditanam di pekarangan rumah atau lahan sekitar,” ujar Wati, salah seorang anggota dari komunitas Jakarta Berkebun, Kamis (6/8).

Kegiatan berkebun dapat menjadi ruang produktif di kala pandemi. Karena menurut dia, tidak hanya kita bisa menghasilkan bahan pangan sendiri aman dikonsumsi, kegiatan ini juga bisa dilakukan bersama keluarga di rumah.

Hal yang dibutuhkan dalam berkebun juga tidaklah terlalu sulit.Pertama perlu alat dan bahan seperti media tanam, pot atau wadah, bibit, dan pupuk. Tanaman pangan biasanya membutuhkan sinar matahari selama delapan jam setiap harinya. Maka dari itu, apabila ingi memulainya harus selalu memastikan tanaman terkena sinar matahari yang cukup.

Bagi yang masih ragu untuk memulai melakukan urban farming, ternyata bisa diakali dengan memanfaatkan sampah dapur. Pemula bisa memanfaatka sampah dapur dijadikan bahan berkebun seperti biji cabai, potongan akar daun bawang, potongan akar daun seledri, dan rempah rempah seperti jahe dan kunyit. Dengan memanfaatkan sampah dapur ternyata bisa menjadi awal untuk memulai berkebun di rumah.

“Itu regrow, misalnya kita beli cabai kadang ada yang bagus dan yang pedas, jadi kita manfaatkan ambil bijinya untuk ditanam,” jelas Wati.

Tidak hanya biji cabai, contoh lainnya ketika membeli daun bawang dan seledri di pasaran. Biasanya masih terdapat akarnya. Batang dan akar yang biasanya tidak dipakai akan dibuang. Rupanya, ada cara yang bisa kita lakukan agar batang dan akarnya tidak sia-sia. Caranya mudah, potong sekitar 10 cm dari akar dan batang yang ada akarnya itu untuk ditanam. Ada juga stek batang katuk dan papaya jepang yang batangnya tinggal kita tancapkan ke media tanam.

Sampah dapur selain digunakan untuk menjadi langkah awal berkebun, ternyata juga bisa digunakan sebagai kompos. Kulit buah dan sayur yang rusak bisa dimanfaatkan kembali. Dengan cara kulit buah atau sayur rusak disiram pupuk organik cair untuk membantu proses penguraian dan ditaburi sekam bakar agar tidak berbau. Kompos harus diaduk seminggu sekali dan hasil akhirnya menjadi kompos padat dan pupuk cair dalam waktu dua sampai tiga bulan.

Terdapat beberapa metode berkebun yang bisa kita coba sendiri di rumah. Seperti sistem hidroponik yaitu budidaya tanaman dengan media selain tanah dan memanfaatkan air untuk menyalurkan unsur hara ke tanaman. Salah satunya cabai dan sawi hijau yang mudah ditanam.

Kedua, ada metode vertical garden yang bisa dipakai untuk lahan terbatas. Selain memberikan kesegaran dapat juga mempercantik dinding rumah.

Terakhir ada menanam tanaman dalam pot. Metode terakhir ini bisa menjadi pilihan karena biasa ditanam di lahan yang sempit. Contohnya jeruk dan jambu biji. Kedua metode terakhir dapat menjadi pilihan bagi Anda yang ingin berkebun tapi memiliki lahan yang minim.

Apapun metode dalam berkebun kembali menjadi pilihan masing-masing. Dalam berkebun, niat menjadi hal yang terutama, karena dalam berkebun dibutuhkan proses yang tidak sebentar dan juga perawatan.

Reporter Magang: Febby Curie Kurniawan (mdk/gil)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami