Mengapa Tidak Ada Anak-Anak yang Terinfeksi Virus Corona?

SEHAT | 14 Februari 2020 00:35 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Lebih dari 24.000 kasus dan 900 kematian telah terjadi akibat infeksi virus corona. Hal ini menimbulkan ketakutan terhadap banyak orang di seluruh dunia.

Diketahui bahwa usia rata-rata korban meninggal dari virus coona ini adalah 75 tahun. Berdasar Journal of the American Medical Association, diketahui bahwa usia penderita infeksi ini berada antara 49 hingga 56 tahun.

Dilansir dari Live Sciene, hanya terdapat dua bayi baru lahir yang terinfeksi dengan virus corona ini namun tidak ada anak-anak yang mengalaminya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

"Kami belum memahami fenomena ini seutuhnya, hal ini mungkin terjadi karena perbedaan respons imun anak-anak ketika dibandingkan dengan orang dewasa," jelas Dr. Andrew Pavia, kepala divisi penyakit menular anak di University of Utah.

"Terdapat satu hipotesis bahwa hal ini terjadi karena respons imun bawaan, hal ini adalah respon awal yang ditujukan secara luas pada kelompok patogen, cenderung lebih aktif pada anak-anak," sambungnya.

1 dari 3 halaman

Hal yang Sama Tampak pada SARS dan MERS

Masalah terkait infeksi pada anak ini juga terjadi pada infeksi virus yang lain selain virus corona. Pada penyakit severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle Eastern respiratory syndrome (MERS), diketahui bahwa kematian cenderung terjadi pada orang berusia 45 tahun ke atas dan tidak terjadi pada anak-anak.

Diketahui bahwa anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun menunjukkan gejala yang lebih sedikit. Selain itu, mereka juga tidak cenderung dibawa ke rumah sakit.

2 dari 3 halaman

Sistem Imun dan Usia

Pakar kesehatan sepakat bahwa orang dewasa mungkin lebih rentan mengalami infeksi ini karena usia mereka. Semakin kita menua, sistem kekebalan tubuh juga semakin menurun. Melemahmnya sistem kekebalan tubuh ini mendatangkan penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, serta diabetes serta kesulitan untuk melawan sejumlah infeksi.

3 dari 3 halaman

Sistem Pernapasan dan Usia

Walau anak-anak dan orang dewasa sama-sama terekspos virus corona, namun anak-anak cenderung memiliki sistem pernapasan yang lebih sehat dan kuat. Pasalnya, orang dewasa lebih banyak terpapar asap dan polusi yang mungkin melemahkan sistem pernapasan.

Menurut Dr. James Cherry, profesor kesehatan anak-anak dan penyakit infeksi di UCLAs Geffen School of Medicine, orang dewasa cenderung mengalami masalah respons imun yang menyebabkan masalah pernapasan.

Ketika sel imun tidak berfungsi seperti seharusnya, hal ini bisa menimbulkan respons peradangan di paru-paru berujung masuknya cairan ke kantung udara paru-paru. Hal ini bisa berdampak fatal dengan tingkat kematian 40 persen dan menjadi penyebab utama kematian akibat virus corona. (mdk/RWP)

Baca juga:
Kemenkes Sebut Masyarakat Salah Sangka Terhadap Manfaat Masker N95
Infeksi Virus Corona Bisa Disembuhkan, Begini Kriteria Pasien yang Disebut Sembuh
Dokter Paru Masih Belum Ketahui Kapan Persebaran Virus Corona Bakal Usai
Suhu Udara Panas, Virus Corona Bakal Kesulitan Berkembang Biak di Indonesia
Pria Disebut Lebih Rentan Terinfeksi Virus Corona, Ini Alasannya
Ini Perbedaan Gejala antara Infeksi Virus Corona dengan Flu atau Selesma

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.