Mengukur Tekanan Darah Secara Rutin Bisa Jadi Cara Ketahui Risiko Stroke

SEHAT | 16 Desember 2019 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Stroke merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya dan menakutkan bagi sejumlah orang. Hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 menunjukan prevalensi stroke berdasarkan diagnosis pada penduduk berusia di atas 15 tahun adalah 10,85 persen.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada tahun 2016, stroke menempati peringkat ke-2 sebagai penyakit tidak menular penyebab kematian dan peringkat ke-3 penyebab utama kecacatan di seluruh dunia. Hipertensi merupakan penyebab utama stroke di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

dr. Eka Harmeiwaty, SpS, dokter spesialis saraf (Neurologist) mengatakan hipertensi adalah faktor risiko paling sering menyebabkan terjadinya stroke iskemik dan stroke hemoragik.

"Angka prevalensi hipertensi pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 25,8 persen di tahun 2013 menjadi 34,1 persen di tahun 2018. Artinya, saat ini 3 di antara 10 penduduk Indonesia yang berusia 18 tahun ke atas adalah penderita hipertensiā€, ujarnya.

1 dari 1 halaman

Hubungan antara Hipertensi dan Stroke

Ia menambahkan, hipertensi menyebabkan stroke iskemik dan stroke hemoragik melalui mekanisme yang berbeda. Tekanan darah yang tinggi akan merusak elastisitas pembuluh darah di otak, dinding pembuluh darah menebal dan mempermudah terbentuknya plak. Keadaan ini akan membuat lumen pembuluh darah menyempit dan tersumbat.

Akibatnya otak tidak bisa mendapat suplai oksigen dan nutrisi yang akan menyebabkan kerusakan hingga kematian sel saraf di otak. Selain itu hipertensi kronis akan menyebabkan penipisan dinding pembuluh darah arteri yang lebih kecil, dan menyebabkanterbentuknya gelembung yang bisa pecah sewaktu-waktu.

Darah yang keluar dari pembuluh darah akan menekan sel saraf di sekitarnya dan menyebabkan kerusakan. Tubuh mempunyai kemampuan mengabsorbsi darah, sehingga bila perdarahan tidak luas pemulihannya akan lebih baik dari stroke penyumbatan. Namun bila perdarahan luas akan berakibat fatal.

Gejala stroke selalu muncul mendadak, hanya progresivitasnya bisa bertahap atau langsung parah.

Mengukur Tekanan Darah di Rumah

Untuk itu, pengukuran tekanan darah di rumah dapat membantu mencegah stroke. Dr. Eka menambahkan, dalam upaya pencegahan stroke, target tekanan darah pagi hari dengan PTDR adalah < 135/85 mmHg. PTDR sebaiknya dilakukan pada pagi dan malam hari.

Pada pagi hari dilakukan 1 jam setelah bangun tidur, pasien telah buang air kecil, sebelum sarapan dan sebelum minum obat. Bila melakukan olah raga harus beristirahat dulu selama 30 menit.

Sedangkan pada malam hari pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum tidur. Pengukurantekanan darah dilakukan minimal 2 kali setiap pemeriksaan dengan interval 1-2 menit.

Untuk diagnosis hipertensi diambil dari rerata dari hasil pengukuran kedua pemeriksaan dalam waktuminimal 3 hari atau lebih (sangat dianjurkan selama 7 hari) yang berurutan. Pengukuran padahari pertama diabaikan dan tidak masuk dalam perhitungan. Selama pengukuran yang bersangkutan tidak boleh berbicara atau mengobrol dan sangat dianjurkan menggunakan alat pengukur yang tervalidasi.

"Pengukuran dilakukan di lengan, bukan di pergelangan tangan kecuali untuk orang dengan obesitas, bila tidak tersedia ukuran cuff yang sesuai," tandasnya.

Reporter: Anisha Saktian Putri
Sumber: Fimela.com (mdk/RWP)

Baca juga:
Polusi Udara Semakin Parah di 2019, Masalah Kesehatan Ini Berisiko Meningkat
Pahami Langkah-Langkah Hadapi Risiko Stroke yang tepat
5 Cara Efektif untuk Menjaga Tekanan Darah Tanpa Menggunakan Obat
Dokter Ungkap Bahwa Konsumsi Obat Hipertensi Tidak Merusak Ginjal
Tidur Kurang dari 6 Jam Semalam Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.