Pasien dan Dokter Perlu Banyak Berkomunikasi untuk Cegah Penyalahgunaan Antibiotik

Pasien dan Dokter Perlu Banyak Berkomunikasi untuk Cegah Penyalahgunaan Antibiotik
Ilustrasi antibiotik. ©Thinkstock photos/ Getty Images
SEHAT | 24 November 2020 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Salah satu masalah kesehatan yang rentan dialami pada saat ini adalah konsumsi antibiotik berlebih. Hal ini bisa menimbulkan ancaman bakteri resistensi antimikroba di masa depan. Untuk itu, pasien dan dokter haruslah saling mengkomunikasikan soal pengobatan yang diterima ketika berobat.

"Dulu kita selalu mendengar bahwa dokter itu anti kalau ditanya, tetapi sekarang pasien sebagai konsumen malah harus bertanya kepada dokternya," kata Nani Widodo, Kepala Sub Direktorat Pelayanan Medik dan Keperawatan, Direktorat Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Dalam temu media virtual beberapa waktu lalu, Nani mengatakan bahwa pasien saat ini harus berani untuk bertanya mengenai pengobatan apa yang diterima untuk menangani penyakitnya, salah satunya terkait pemberian antibiotik.

"Dokter pun juga harus memberikan informasi tersebut. Tidak boleh tidak mau bicara, setelah menulis resep pasien disuruh keluar, sudah tidak laku dokter seperti itu," kata Nani.

Terkait pemberian antibiotik, dokter pun diminta untuk menjelaskan dengan baik kepada pasien soal hal tersebut. "Kalau dokternya tidak menjelaskan, kita sebagai pasien harus bertanya," sambungnya.

Baca Selanjutnya: Kewajiban Apoteker untuk Menjelaskan...

Halaman

(mdk/RWP)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami