Pencegahan COVID-19 Juga Memiliki Dampak Memutus Penularan Tuberkolosis

Pencegahan COVID-19 Juga Memiliki Dampak Memutus Penularan Tuberkolosis
SEHAT | 11 Juli 2020 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Situasi pandemi COVID-19 saat ini juga memiliki dampak terhadap penyakit lain. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa ada dampak baik dan buruk situasi ini terhadap penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu mengungkapkan bahwa promosi kesehatan untuk pencegahan COVID-19 sesungguhnya juga berguna untuk mencegah tuberkulosis.

"COVID-19 ini baru empat bulan lho, tetapi orang begitu luar biasa bisa langsung pakai masker, bisa cuci tangan, kemudian jaga jarak," kata Wiendra dalam siaran bincang-bincang dari Graha BNPB, Jakarta beberapa waktu lalu.

"Bayangkan tuberkulosis 300 tahun lalu sudah ada ditemukan dan kita tahun 1970 sudah mulai, jadi sekitar 30 sampai 40 tahun lalu, kita sudah melaksanakan ini," sambungnya.

Namun, Wiendra mengatakan bahwa promosi perilaku pencegahan tuberkulosis tidaklah mudah atau lebih sulit dibandingkan kampanye pencegahan COVID-19. Padahal menurutnya, hal-hal tersebut juga bisa memutus penularan TB.

1 dari 1 halaman

Di sisi lain, pandemi COVID-19 juga berdampak pada terganggunya pelayanan kesehatan bagi pasien TB.

"Pasiennya tidak bisa ke layanan," kata Wiendra. "Fasilitas kesehatan itu sekarang takut juga memeriksa pasien TB. Jadi karena dia merasa pasien TB ada COVID-19 juga, dia harus pakai APD," tambahnya.

Selain itu, pasien TB juga kesulitan untuk mencari pengobatan mandiri di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini dikarenakan diutamakannya layanan untuk penanganan COVID-19.

Wiendra menyebutkan, terjadi penurunan pasien TB yang datang ke layanan kesehatan akibat pandemi COVID-19. Ia mengatakan situasi tersebut terjadi secara drastis di bulan Mei.

"Padahal setiap tahun harus didapatkan sekitar 800 ribu tapi di bulan yang turun jadi tiga ribu," katanya.

Oleh karena itu, Wiendra mengungkap bahwa layanan tuberkulosis tetap harus berjalan meski di tengah pandemi COVID-19. Pasien TB juga harus tetap rutin dan tidak boleh putus konsumsi obat.

Reporter: Giovani Dio Prasasti
Sumber: Liputan6.com (mdk/RWP)

Baca juga:
Dokter Ungkap Banyak Perokok Baru Mau Berhenti Setelah Sakit
8 Jenis Makanan Terbaik yang Bisa Dikonsumsi Setelah Olahraga, Jangan Salah Pilih
5 Manfaat yang Bisa Diperoleh Wanita ketika Rutin Memijat Payudara
Mengapa Banyak Orang yang Enggan Menerapkan Protokol Kesehatan COVID-19?
Masalah Tidur saat Bayi dan Balita Bisa Sebabkan Masalah Mental saat Remaja
Apa Sih Sebenarnya Fungsi Bulu Ketiak dan Apa Perlu Mencukurnya?

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami