Peneliti Ungkap Anak Kota Ternyata Lebih Anteng Dibanding Anak Desa

Peneliti Ungkap Anak Kota Ternyata Lebih Anteng Dibanding Anak Desa
SEHAT | 24 Maret 2020 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Selama ini anak kota selalu dianggap lebih rewel dan manja sedangkan anak desa bisa lebih mandiri dan tangguh. Namun sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa pada balita yang terjadi bisa jadi sebaliknya.

Balita dari keluarga yang tinggal di pedesaan cenderung lebih sering menampilkan emosi negatif seperti frustrasi dan kemarahan. Hal ini tampak ketika dibandingkan dengan balita yang tinggal di perkotaaan.

Hal ini diketahui berdasar hasil penelitian terbaru yang dimuat pada Journal of Community Psychology. Bayi yang tinggal di kota besar cenderung tidak rewel dan terganggu oleh berbagai batasan dari pengasuh mereka.

Temuan ini diperoleh dari penelitian psikolog dari Washington State University, Maria Gartstein dan Alyssa Neumann. Mereka mempelajari perbedaan temperamen balita, interaksi anak dan orang tua, serta stres parenting amtara keluarga dengan kondisi sosioekonomik dan komposisi rasial yang sama.

Peneliti mengetahui bahwa ibu di kota cenderung lebih cepat merespons ketika bayi mereka membutuhkan sesuatu. Hal ini kemudian membuat balita lebih tenang dan tidak mudah marah-marah.

"Fakta bahwa pada penelitian kami ibu di pedesaan lebih sering menunjukkan ekspresi marah dan frustrasi dari balita mereka mungkin berdampak tingginya tingkat frustrasi pada usia balita dan meningkatkan risiko masalah perhatian, emosional, sosial, dan perilaku," terang Gartstein.

1 dari 2 halaman

Untuk penelitian ini, dibandingkan data dari dua penelitian yang pernah dilakukan terkait interaksi ibu dan anak serta temperamen anak. Penelitian pertama dilakukan terhadap 68 partisipan beserta balita mereka di San Fransisco Bay Arena. Sedangkan penelitian kedua dilakukan pada 120 ibu di pedesaan di Inland Northwest, Amerika Serikat.

Para ibu diberi kuisioner untuk mencatat frekuensi dari 191 perilaku anak yang berbeda pada usia 6 dan 12 bulan setelah lahir. Peneliti kemudian menganalisis bayi dengan 14 dimensi berbeda.

2 dari 2 halaman

Penelitian ini masih akan dikembangkan lebih lanjut untuk melihat mengapa perbedaan ini bisa terjadi. Akan dikaitkan mengenai konteks lokasi tempat tinggal mereka yang berbeda dengan temperamen antara kedua kelompok itu.

"Sebagai contoh, akses pada layanan kesehatan mental dan perilaku serta sumber daya anak yang lebih terbatas pada masyarakat pedesaan," terang Gartstein.

"Mengetahui apa peran dari lokasi tempat tinggal ini pada perkembangan emosi sosial balita bakal jadi tahap selanjutnya pada penelitian," tandasnya. (mdk/RWP)

Baca juga:
Pada Anak, Infeksi Virus Corona Tidak Bakal Parah Tapi Bisa Menyebar
Begini Cara untuk Mengajarkan Anak Cara Mengendalikan dan Mengekspresikan Emosi
Kondisi Gemuk Bukan Merupakan Penanda Bahwa Seorang Anak Sehat
9 Penyebab Anak Tak Mau Makan yang Harus Jadi Perhatian Orangtua
Mengapa Bayi Masih Belum Bisa Minum Air Putih?

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami