Perbedaan frekuensi Buang Air Besar pada Bayi dan Anak Harusnya Tak Jadi Masalah

SEHAT | 5 Oktober 2019 16:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Perubahan yang dialami seorang anak ketika bayi hingga bertambahnya usia biasanya menyebabkan masalah pada orangtua. Salah satu masalah yang bisa membuat orangtua cemas adalah frekuensi buang air besar (BAB) anak yang berbeda dibanding pada saat masih bayi.

"Umumnya, pada bayi yang baru lahir BAB itu bisa 5-6 kali per hari, teksturnya encer seperti bubur. Ketika bertambahnya usia, BAB mungkin akan mulai jarang," ucap dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi Ade Djanwardi Pasaribu.

Pada anak usia 1-3 tahun, umumnya frekuensi BAB akan menjadi empat kali dalam satu minggu. Sedangkan anak di atas 3 tahun, BAB minimal tiga kali per minggu.

"Kalau kurang dari itu, bisa disembut sebagai sembelit. Jika sudah berlangsung lama, maka harus segera ditangani," ucap Ade dalam live Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia terkait Sembelit pada Anak (IDAI).

1 dari 1 halaman

Sembelit pada Anak

Kesulitan BAB atau sembelit pada anak akan sangat mengganggu. Perut bisa terasa sakit dan anak mengalami kesulitan untuk mengeluarkan feses yang sudah menumpuk dan keras.

"Tanda-tanda yang harus diwaspadai seperti BAB berdarah, demam, kesakitan yang berlebih, sampai berat badan badan menurun, maka itu harus segera ditangani," jelas Ade.

Apabila tidak ada tanda-tanda bahwa sang anak mengalami ketidaknyamanan, maka mereka hanya perlu diingatkan dan dilatih untuk BAB setiap harinya.

"Kita juga harus memperhatikan kapan waktu sembelit yang dialami sang anak. Jika bayi tidak melakukan BAB sama sekali dalam 24 jam, maka kita harus waspada," ucap Ade.

Penting juga untuk mengingat bahwa tiap anak memiliki pola BAB yang berbeda. BAB tergantung pada apa yang dikonsumsinya. Maka itu penting untuk mengamati bagaimana pola rutin BAB anak setiap harinya.

"BAB adalah proses terakhir dari proses pencernaan. Jadi kalau pola makannya tidak benar, tidak banyak asupan masuk, tidak banyak juga yang dikeluarkan," jelas Ade.

"Dan bukan berarti juga masuk kategori sembelit, harus ada cek lebih lanjut ke dokter tumbuh kembang jika berhubungan dengan pola makan," tandasnya.

Reporter: Diviya Agatha
Sumber: Liputan6.com (mdk/RWP)

Baca juga:
Ketika Anak Demam, Kapan Sebaiknya Dibawa ke Dokter?
Kondisi Intoleransi Laktosa pada Seseorang Bisa Disebabkan Kurangnya Susu Sejak Kecil
Balita Disarankan untuk Tidak Mengonsumsi Susu Berbahan Dasar Tumbuhan
Yogurt Bisa Bermanfaat Bantu Anak Obesitas Atasi Masalah Kesehatan Mereka
Ketenangan Orangtua Dibutuhkan Ketika Hadapi Anak yang Demam