Pernikahan Usia Dini Bisa Jadi Penyebab Utama Stunting

SEHAT | 12 Januari 2019 08:15 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Salah satu masalah serius dalam perkembangan yang masih banyak dialami anak di Indonesia adalah stunting. Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Kesehatan melakukan sederet program demi menekan kasus stunting di berbagai daerah.

Penyebab masalah yang rawan terjadi di Indonesia adalah karena pernikahan usia dini yang masih marak. Usia ayah dan ibu yang masih terlampau muda membuat risiko stunting menjadi meningkat.

Stunting sendiri merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Hal ini mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Tak hanya itu, juga berdampak buruk pada aspek kognitifnya.

Menurut situs resmi WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Menurut UNICEF (The United Nations Children's Fund), stunting menandakan gizi buruk kronis selama periode emas tumbuh kembang anak di usia dini.

Menurut Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, kasus stunting tertinggi di Indonesia terjadi pada 2013.

"Di tahun 2013 angkanya mencapai 37,2 persen. Sekitar 4 dari 10 balita mengalami stunting," tuturnya.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memang menunjukan adanya penurunan, yakni 30,8 persen. Namun angka tersebut belum mencapai target yang ditetapkan WHO.

"Sekarang perbandingannya 3:10, sementara WHO minta 2:10. Saya berharap kita tidak ada lagi," ujarnya.

Stunting bukan hanya menyerang fisik anak. Penderita stunting memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata. Termasuk sangat berisiko terkena penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung dan diabetes.

Nila menyebutkan, salah satu faktor penyebab stunting adalah pernikahan usia dini. Yaitu ketika ayah dan ibu menjalani pernikahan di usia yang masih belasan tahun. Belum memiliki cukup ilmu, serta kestabilan emosi dan finansial untuk membesarkan anak

"Stunting banyak ditemukan pada perkawinan usia dini. Fisik dan mental mereka belum cukup untuk menjadi ibu. Pengetahuan mereka mengenai asupan gizi bayi belum luas sehingga risiko stunting jauh lebih besar," ungkap Nila.

Reporter: Annisa Mutiara Asharini
Sumber: Dream.co.id

Baca juga:
6 Kabupaten di Jatim Rawan Kasus Stunting
Puskapa UI Sebut Angka Stunting di Indonesia Mencapai 27 Persen
Hadir di acara Mak Ija, Mardani Ali Sera Singgung Masalah Stunting dan Ekonomi
Adu Gagasan Melawan Stunting
Kisah Anak Stunting di Indonesia
Hashim: Prabowo sudah lama peduli stunting, dulu namanya revolusi putih
Ahli gizi sebut 9 juta anak Indonesia kena stunting

(mdk/RWP)

TOPIK TERKAIT