Kasus Pengeroyokan Siswi SMP, Begini Cara Orangtua Bantu Anak Usai Jadi Korban Bully

SEHAT | 10 April 2019 10:11 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Kasus yang dialami remaja berinisial ABZ (15) di Pontianak menjadi bukti betapa rentannya anak-anak menjadi korban bully. Pada kejadian tersebut, ABZ menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan sejumlah siswa SMA.

Usai kejadian pengeroyokan tersebut diketahui publik, dukungan terhadap ABZ mengalir deras dari publik. Kaus perisakan yang dialami oleh Audrey ini menunjukkan bahwa kejadian pengeroyokan terhadap anak seperti ini masih terjadi di Indonesia.

Pada anak korban bully seperti ini, peran orangtua sangat penting untuk menguatkan mental anak menghadapi masalah ini. Pasalnya, jika ketakutan di anak tidak hilang dalam waktu lama, dia bakal kesulitan dalam bersosialisasi di masyarakat atau kembali ke sekolah.

Dengan penanganan yang tepat, orangtua bisa membantu agar mental anak kembali pulih dan normal. Dilansir dari Verywell, berikut cara yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk memulihkan kembali kesehatan mental anak.

1. Buat Anak Yakin Bahwa Dia Kuat

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah meyakinkan anak bahwa dia sebenarnya kuat dan tidak seperti apa yang dikatakan orang lain. Buat anak untuk melupakan kejadian tersebut dan yakinkan bahwa dia sebenarnya memiliki kelebihan yang jauh lebih banyak dan potensi yang belum tergali sepenuhnya.

2. Ubah Pola Pikir Anak

Banyak anak yang menjadi korban bully terus memikirkan pengalaman buruk yang mereka alami sehingga mereka terpuruk. Selain itu, banyak juga mereka yang menelan mentah-mentah cacian yang diterima dan menganggapnya merupakan kenyataan yang mereka miliki. Ubah pola pikir tersebut dan buatlah mereka berpikir bahwa hal yang paling penting adalah tujuan dan masa depan mereka.

Langkah ini kadang memang sulit dilakukan sendiri oleh orangtua sehingga anak juga dapat dibantu oleh konselor untuk mengubah pola pikir. Usahakan agar hal-hal negatif yang dipikirkan anak dan muncul akibat perisakan tersebut jadi hilang dan diganti dengan tujuan dan cita-cita positif yang dia miliki.

3. Buat Anak Mampu Menguasai Pikirannya Sendiri

Perasaan tak berdaya dan lemah merupakan sebuah hal umum yang dialami korban bully. Bahayanya, pikiran ini bisa terbawa hingga dewasa kelak dan membuat anak dihantui.

Yakinkan anak untuk berpikir bahwa walaupun perilaku bully yang dia terima tak dapat dihindari, namun dia bisa mengendalikan reaksi yang muncul. Ketika anak mulai bisa menguasai perasaannya, maka emosi dan pemikirannya bakal lebih baik dan positif. Melakukan hal ini juga dapat membantu anak dalam jangka panjang karena dia merasa bisa memegang kontrol sepenuhnya terhadap hidup yang dijalani.

4. Fokus pada Kelemahan Anak

Kenali hal apa yang menjadi kelemahan anak dan bagian mana yang perlu dikembangkan darinya. Lihat hal apa yang kurang, misal pada percaya diri atau keberanian, lalu kemudian tumbuhkan hal itu. Dengan mengetahui dan menyadari kelemahan yang dimiliki anak, maka akan lebih mudah untuk menyingkirkan masalah yang telah dan akan muncul.

5. Bantu Lupakan Sepenuhnya

Tahap penyembuhan paling akhir yang bisa dibantu oleh orangtua adalah dalam membantu anak melupakan trauma yang dialaminya. Hal ini membutuhkan kesabaran dari orangtua untuk membimbing anak secara perlahan dan kadang butuh upaya ekstra seperti pindah rumah, sekolah, atau hal lainnya. Buat anak tidak terikat dengan kejadian buruk yang pernah dia alami di masa lampau.

Lima cara tersebut bisa dilakukan oleh orangtua untuk membantu enak melewati masa-masa sulit usai menjadi korban bully. Kehadiran orangtua ini sangat penting dalam menguatkan kembali mental sang anak dan melupakan masalah yang pernah dialami.

Baca juga:
Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP oleh Siswi SMA di Pontianak versi KPAD
Ini Waktu yang Kamu Butuhkan untuk Menurunkan Kadar Stres di Alam Bebas
Berolahraga Secara Rutin Bisa Buat Kamu Sesenang Seperti Miliuner
Sejumlah Bahaya yang Mengancam di Balik Senyuman yang Muncul Ketika Depresi
Bagini Cara Jauhkan Anak dari Perilaku Kecanduan Bermain Gim
Orangtua Perlu Siapkan Mental Anak Ketika Beranjak Dewasa

(mdk/RWP)