Serangan Jantung Bukan Akhir Segalanya, Masih Ada Peluang untuk Diselamatkan

Serangan Jantung Bukan Akhir Segalanya, Masih Ada Peluang untuk Diselamatkan
Ilustrasi serangan jantung. ©iStock
SEHAT | 17 Juni 2022 09:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Banyak orang beranggapan bahwa serangan jantung yang terjadi bisa berakibat maut. Walau begitu, sebenarnya ketika seseorang mengalami serangan jantung, masih ada harapan baginya untuk diselamatkan.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah Dr. med. dr. Denio A. Ridjab, Sp.JP (K) mengatakan perburukan kondisi pasien yang mengalami serangan jantung bisa dihindari dengan tindakan Intervensi Koroner Perkutan Primer (Primary Percutaneous Coronary Intervention) atau Angioplasty Primer.

"Itu adalah prosedur medis untuk memulihkan aliran darah ke jantung dengan cara mengatasi sumbatan atau penyempitan pada arteri koroner yang diakibatkan oleh aterosklerosis, yakni penumpukan deposit kolesterol (disebut plak) di arteri," jelas Denio beberapa waktu lalu dilansir dari Antara.

Intervensi Koroner Perkutan Primer dilakukan dengan meregangkan area arteri koroner yang menyempit memakai balon yang terpasang pada kateter, yakni selang kecil yang fleksibel, masuk ke tubuh untuk menuju arteri yang bermasalah.

Serangan jantung adalah gangguan aliran darah di pembuluh darah jantung sehingga otot jantung mengalami kerusakan, atau disebut juga infark miokard, penyebab utama kondisi ini adalah penyakit jantung koroner.

2 dari 2 halaman

Ia menjelaskan, kondisi serangan jantung termasuk dalam kegawadaruratan yang butuh waktu penanganan sesegera mungkin oleh tim gawat darurat dan spesialis jantung. Kematian akibat serangan jantung bisa terjadi akibat terlambat mendapatkan penanganan medis.

Pasalnya, apabila serangan jantung yang luas, parah, terlambat atau tidak tertangani dengan baik, maka kemungkinan komplikasi yang di timbulkan akibat serangan jantung akan semakin berat, antara lain gangguan irama jantung atau aritmia, gagal jantung, syok kardiogenik, dan henti jantung yang dapat berujung pada kematian.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sedikitnya 15 dari 1000 orang atau sekitar 2.784.064 orang di Indonesia menderita penyakit jantung, sehingga penyakit jantung koroner menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan saat ini penyakit jantung mulai meningkat dialami pada usia muda sekitar usia 30-50 tahun.

Sebagian besar serangan jantung identik dengan gejala seperti nyeri dada, rasa tidak nyaman seperti tertekan, sensasi terbakar, sakit di dada sebelah kiri atau tengah, kemudian menjalar sampai ke punggung, rahang, dan lengan, nyeri memberat saat beraktivitas, lalu gejala lain, seperti sesak nafas, munculnya keringat dingin, mual, muntah, dan pusing.

Serangan jantung yang muncul pada diri seseorang juga bisa serupa dengan GERD atau maag. Pada beberapa orang, mereka bahkan tidak menunjukkan gejala namun langsung mengalami henti jantung atau mati mendadak. (mdk/RWP)

Baca juga:
6 Hal Mengejutkan yang Bisa Berdampak Buruk pada Kesehatan Jantung
Data Seputar Gagal Jantung: Penyakit Nomor Satu di Indonesia
Pentingnya Gaya Hidup Sehat pada Lansia untuk Cegah Risiko Penyakit Jantung
Mengenal Aritmia, Penyebab Jantung Berhenti saat Olahraga Berat

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini