Stres pada Ibu Hamil Bisa Buat Anak Lebih Rentan Dermatitis Atopik

SEHAT | 26 Januari 2020 00:35 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Depresi pada ibu hamil pada periode postpartum dan setelahnya ternyata berhubungan dengan munculnya dermatitis atopik. Dilansir dari Medical Xpress, penelitian terbaru mengungkap bahwa hal ini bakal dialami oleh anak yang dikandung pada saat anak-anak ataupun remaja.

Dermatitis atopik merupakan penyakit radang kulit kronis yang ditandai dengan rasa gatal, sakit, serta gangguan tidur. Penyakit ini juga dihubungkan dengan sejumlah masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, serta keinginan bunuh diri.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal Dermatitis. Penelitian ini dipimpin oleh Jonathan Silverberg, MD, Ph.D., MPH, profesor dermatologi di George Washington University School of Medicine and Health Sciences. Peneliti memeriksa hubungan antara depresi saat kehamilan pada periode postpartum serta depresi oleh orangtua dengan kondisi dermatitis atopik pada anak saat masih kecil dan remaja.

Silverberg mendapat data melalui akuisisi, analisis, serta interpretasi yang bekerja sama dengan peneliti dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, Costner McKenzie.

"Kami mengatahui bahwa faktor emosional bisa memperparah dermatitis atopik serta mempengaruhi daerah munculnya penyakit," terang Silverberg.

"Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa lingkungan keluarga dan faktor lingkungan lain bisa berdampak pada dermatitis atopik," sambungnya.

1 dari 1 halaman

Tim peneliti menganalisis data dari hasil penelitian sebelumnya. Diketahui bahwa depresi postpartum berhubungan dengan meningkatnya peluang timbulnya dermatitis atopik pada selanjutnya, lebih rentan dermatitis atopik, serta meningkatnya gangguan tidur pada anak dengan masalah ini.

"Hasil temuan lanjutan kami mengungkap bahwa depresi postpartum berhubungan dengan DA bahkan pada anak yang lebih tua dan remaja, dengan kondisi yang lebih rentan terhadap penyakit ini serta gangguan tidur yang lebih besar," terang Silverberg.

"Hal ini bisa secara potensial membuat DA menjadi lebih parah," sambungnya.

Penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mengonfirmasi lebih lanjut hal ini. Selain itu hal ini juga bisa bermanfaat untuk mengidentifikasi intervensi yang bisa dilakukan. (mdk/RWP)

Baca juga:
Sejumlah Hal yang Penting Diketahui Ketika Bepergian saat Tengah Hamil
4 Minuman yang Disarankan untuk Dikonsumsi Ibu Hamil demi Kandungan yang Optimal
Bahaya yang Bisa Muncul Bagi Wanita yang Melahirkan Sebelum Berusia 20 Tahun
7 Tanda-Tanda Masa Awal Kehamilan yang Jarang Kamu Kenali
7 Dampak Sehat yang Bisa Diperoleh dari Berolahraga ketika Hamil

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.