Waspadai Menularkan COVID-19 pada Keluarga di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan

Waspadai Menularkan COVID-19 pada Keluarga di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan
SEHAT | 28 Maret 2020 08:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana

Merdeka.com - Penangan pertama merupakan hal yang wajib diketahui termasuk ketika seseorang terinfeksi COVID-19. Hal ini terutama ketika infeksi ini mungkin kita tularkan kepada orang lain dan keluarga di rumah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dirga Sakti Rambe berbagi ilmu tentang mencegah, mendeteksi, dan penanganan pertama Corona COVID-19 terhadap Keluarga. Beberapa kiat disampaikan untuk cegah penularan mulai pada anak, ibu hamil hingga lanjut usia.

Menurutnya, pencegahan di lingkup keluarga dapat dilakukan dengan social distancing. Setiap anggota keluarga harus mengikuti instruksi pemerintah.

“Kalau keluar dari rumah akan terjadi interaksi dengan orang banyak sehingga berisiko tertular. Saat pulang ke rumah, potensi menularkan pada anggota keluarga pun tinggi,” kata Dirga.

Jika orang terpaksa keluar rumah maka perlu dilakukan beberapa langkah kebersihan. Mulai dari segera mengganti baju, cuci tangan, kaki, dan mandi.

Penularan virus sendiri ada tiga faktor, tambah Dirga. Pertama faktor daya tahan tubuh manusia, kedua faktor seberapa ganas dan banyaknya virus yang masuk ke dalam tubuh, Ketiga, faktor lingkungan, virus dapat bertahan di suhu dan kelembaban yang rendah.

1 dari 2 halaman

Pada Ibu Hamil dan Menyusui

Corona dapat tertular pada siapa pun termasuk ibu hamil. Namun, kehamilan bukan penambah risiko tertularnya corona.

Risikonya sama dengan orang biasa. Belum ada bukti bahwa corona dapat ditularkan secara vertical atau dari ibu ke bayi.

Dirga menambahkan, ibu menyusui yang positif corona masih bisa menyusui secara langsung. Dengan catatan, sang ibu tidak dalam kondisi lemah yang parah. Virus sendiri tidak ditularkan melalui air susu ibu.

Harus diperhatikan betul, pelindung ketika menyusui agar tidak ditularkan. Ibu wajib memakai masker dan semua alat dicuci. Kalau sakit berat jangan berikan ASI secara langsung.

2 dari 2 halaman

Pada Anak dan Lansia

Menurut penelitian di China, seperti disampaikan Dirga, anak ternyata lebih kecil risikonya untuk terpapar virus.

Anak di bawah 10 tahun risikonya di bawah 1%, sistem kekebalan anak dan reseptor virus belum berkembang secara sempurna. Hal ini menyulitkan virus untuk masuk ke anak-anak.

Sedang, ada dua kelompok yang dapat fatal jika terkena virus. Pertama pada lanjut usia dan kedua pada orang yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti asma.

Kita harus sadar diri tanya diri bagaimana kondisi hari ini, kalo demam batuk pilek jangan interaksi dengan orang tua, kakek, nenek.

Hal ini dikarenakan virus menyerang sistem pernapasan yang berbeda pada anak dan lansia. Pada anak biasanya menyerang saluran pernapasan bagian atas seperti hidung dan tenggorokan.

Pada lansia virus menyerang bagian bawah seperti paru-paru. Maka dari itu, biasanya anak-anak hanya memiliki gejala ringan sedangkan orang tua gejalanya berat dan dapat menyebabkan kematian.

Gejalanya sendiri hampir sama dengan penyakit flu, misal demam, batuk kering, dan pusing. Masa inkubasi dari mulai terpapar hingga muncul gejala paling cepat dua hari dan paling lambat dua minggu bahkan lebih.

Jangan menulari dan jangan ketularan, pungkas Dirga.

Reporter: Ade Nasihudin Al Ansori
Sumber: Liputan6.com (mdk/RWP)

Baca juga:
Muncul Hantavirus, Pakar Virus Sebut Tak Seberbahaya COVID-19
Mengapa Wajah Kita Bisa Bengkak Usai Mengonsumsi Mi Instan di Malam Hari?
Rentan Penularan Corona, Berikut Hal yang Perlu Dipahami Ketika ke Dokter Gigi
Pola Makan Ayah Bisa Pengaruhi Kondisi Sperma dan Kesehatan Anak di Masa Mendatang
Pahami Maksud dari Disinfeksi Sebelum Melakukannya di Rumah
Anak Muda Perlu Waspada COVID-19 Karena Gejala yang Tak Tampak
Produksi Hand Sanitizer Sendiri Bisa Timbulkan Bahaya bagi Masyarakat
Hilangnya Penciuman Secara Mendadak Bisa Jadi Tanda Awal COVID-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami