Klub-Klub Shopee Liga 1 2020 yang Minim Dukungan Suporter

Klub-Klub Shopee Liga 1 2020 yang Minim Dukungan Suporter
SEPAKBOLA | 26 Maret 2020 10:51 Reporter : Redaksi Bola.com

Merdeka.com - Bola.com, Jakarta - Bermain di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, yakni Shopee Liga 1 2020, menjadi pencapaian yang luar biasa. Namun, hal itu bukan jaminan mampu mencuri perhatian suporter.

Banyaknya klub-klub yang lahir tanpa identitas semisal hasil dari merger membuat mereka kesulitan menggaet dukungan suporter. Biasanya, klub tersebut hadir di tempat yang dahulunya atau masih memiliki tim sepak bola.

Wajar bila klub-klub tersebut kesulitan menggaet hati suporter. Cara instan kemudian diambil dengan melakukan merger dengan klub yang sudah lebih dulu ada.

Namun, cara tersebut tak selamanya mampu memberikan dampak signifikan. Contohnya adalah Persikabo 1973 yang musim ini mematenkan nama tersebut dan menghilangkan embel-embel Tira.

Klub tersebut menjadi yang paling minim suporter sejak tampil di Liga 1 2017. Maklum, ketika itu klub yang mengambil alih lisensi Persiram Raja Ampat tersebut menggunakan nama PS TNI. Nama yang cenderung lebih private dan teruntuk kalangan tertentu saja.

Pada 2017, PS TNI hanya mampu mengumpulkan 38.595 penonton dalam 34 laga yang dimainkan. Jumlah penonton tertinggi dalam sebuah pertandingan PS TNI adalah 18.288 orang dan yang paling rendah adalah 257 orang.

Memasuki musim 2018, PS TNI melakukan pergantian nama menjadi PS Tira yang merupakan akromin dari TNI dan Rakyat. Perlahan tetapi pasti terjadi peningkatan jumlah penonton musiman menjadi 25.385.

"Sayangnya, tim saya tidak memiliki suporter. Buat saya, itu cukup sulit bermain tanpa suporter dalam laga kandang," kata Aleksandar Rakic yang menghabiskan musim 2018 bersama PS Tira.

Lonjakan jumlah penonton mampu diraih ketika berganti nama menjadi Tira Persikabo pada musim 2019. Ketika itu, data mencatat jumlah penonton Tira Persikabo per musim sebesar 97.548 orang. Lonjakan itu tak lagi membuat Tira Persikabo menghuni papan bawah jumlah penonton musiman.

Kini, dengan meninggalkan semua embel-embel TNI dan memakai nama Persikabo 1973 diprediksi jumlah penonton di Shopee Liga 1 2020 bakal melonjak. Nama tersebut lebih dekat dengan masyarakat khususnya dengan suporter Persikabo yang berdomisili di Kabupaten Bogor

Tak Terpengaruh

Suporter Bhayangkara FC merayakan gelar juara Liga 1 dengan konvoi dari Lapangan Bhayangkara menuju PTIK, Jakarta, Selasa (12/12/2017). Polri memberikan penghargaan kepada pemain dan official Bhayangkara FC. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Situasi yang tak jauh berbeda dialami Bhayangkara FC. Klub yang identik dengan Kepolisian Republik Indonesia itu lahir dengan memakai lisensi dari Persikubar Kutai Barat pada 2010.

Perlu pergantian beberapa nama dari Persikubar menjadi Persebaya, Bonek FC Surabaya, Surabaya United, Bhayangkara Surabaya United, dan menjadi Bhayangkara FC sampai saat ini. Pada 2017, Bhayangkara FC langsung tampil menggebrak dengan menjuarai liga.

Sebagai klub baru, jumlah penonton Bhayangkara FC ketika itu cukup bagus yakni 84.705 semusim. Mayoritas penonton pertandingan Bhayangkara FC berasal dari keluarga dan kerabat petugas Kepolisian yang menyebut diri sebagai Bharamania.

Akan tetapi, terjadi penurunan jumlah penonton secara bertahan. Pada 2018, jumlah penonton musiman Bhayangkara FC sebesar 64.225.

Kemudian penurunan signifikan terjadi pada 2019 di mana jumlah penonton musiman menyentuh angka hanya 17.872. Jumlah itu membuat Bhayangkara FC menjadi klub dengan jumlah penonton musiman terendah.

Meski tak punya basis suporter besar, banyak pemain bersedia bergabung dengan Bhayangkara FC. Penyebabnya adalah klub berjulukan The Guardians itu merupakan satu di antara klub yang punya sokongan dana besar dari sponsor.

"Kalau untuk suporter, saya rasa tidak ada masalah. Kami sudah terbiasa dan Bhayangkara FC juga sudah terbiasa tanpa suporter," kata Ruben Sanadi yang bergabung dengan Bhayangkara FC pada awal 2020.

"Bhayangkara FC beberapa musim lalu juga menjadi juara tanpa suporter. Jadi, saya rasa tim ini sangat bagus," ujar Ruben Sanadi.

Minim Fasilitas

9 2015_.JPG
Aksi suporter Borneo FC dalam laga melawan Persib di leg pertama perempatfinal Piala Presiden 2015 di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (20/9/2015). (Bola.com/M. Ridwan)

Klub lain yang memiliki basis suporter minim di Shopee Liga 1 2020 adalah Borneo FC. Klub ini lahir dari mantan kelompok suporter Putra Samarinda yang kecewa dengan pencapaian timnya.

Pada 2014, manajemen kemudian membeli lisensi Perseba Super Bangkalan. Kemudian dibentuklah nama Pusamania Borneo FC yang memulai debut di kompetisi kasta kedua pada 2014.

Pusamania Borneo FC kemudian berhasil promosi setelah menjadi juara. Sejak saat itu, Borneo FC kukuh di kompetisi teratas Indonesia.

Pada era Liga 1 yakni 2017, Borneo FC sempat mencatatkan jumlah suporter musiman sebesar 116.423. Namun, jumlah tersebut mengalami penurunan pada 2018 yakni 72.504 dan menjadi 53.913 pada 2019.

Menurunnya jumlah suporter yang hadir ke stadion diyakini karena terbatasnya fasilitas yang ada di Stadion Segiri, Samarinda. Manajemen kemudian berbenah dengan meningkatkan fasilitas stadion agar mampu mendatangkan lebih banyak suporter.

"Kami akan terus memperbaiki fasilitas stadion untuk membuat nyaman penonton yang hadir ke stadion. Setiap kami away nanti kami belajar dari tim-tim yang ada di Indonesia bagaimana meningkatkan animo suporter," kata manajer Borneo FC, Dandri Dauri.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami