Mengenal Mangalomang, Tradisi Masyarakat Sumut Saat Malam Hari Raya

Mengenal Mangalomang, Tradisi Masyarakat Sumut Saat Malam Hari Raya
SUMUT | 23 Mei 2020 19:00 Reporter : Fatimah Rahmawati

Merdeka.com - Idul Fitri atau lebaran merupakan salah satu hari besar yang ikut dirayakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Dalam menyambut lebaran, masyarakat di Tanah Air biasanya merayakannya dengan berbagai tradisi yang ada di masing-masing daerah.

Di Sumatera Utara khususnya di Mandailing Natal, ada satu tradisi yang biasa dilakukan masyarakat dalam menyambut lebaran, yaitu Mangalomang. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu dan turun-temurun hingga sekarang.

1 dari 6 halaman

Tradisi Memasak Lemang

Dilansir dari laman medanbisnisdaily, Mangalomang berasal dari bahasa daerah Mandailing Natal, yang artinya memasak beras ketan memakai santan kelapa dan garam di dalam bambu atau memasak lemang.

Ini merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap hari besar Islam, seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Tradisi ini hingga kini masih terus di lakukan para kaum perempuan di Mandailing Natal.

2 dari 6 halaman

Dilakukan Secara Gotong Royong

mengenal mangalomang tradisi masyarakat sumut saat malam hari raya

Sumber: medanbisnisdaily.com ©2020 Merdeka.com

Proses Mangalomang sendiri tergolong unik. Tradisi ini dilakukan oleh warga dengan bahu membahu memasak lemang yang dipanaskan di atas api yang besar.

Saat proses pembuatan, warga bergotong-royong dan membagi tugasnya. Sebagian ada yang bertugas mengambil kayu bakar, sedangkan yang lain menjaga lemang yang sedang dimasak.

3 dari 6 halaman

Makanan Khas Mandailing Natal

Lemang yang dimasak pada tradisi ini merupakan makanan khas Mandailing Natal. Lemang ini dibuat dari bahan dasar beras ketan dan dimasak dalam wadah bambu. Selain karena kelezatannya, lemang yang dimasak dalam tradisi ini menjadi spesial karena kentalnya rasa kebersamaan pada proses pembuatan.

4 dari 6 halaman

Tradisi yang Dijaga Hingga Sekarang

mengenal mangalomang tradisi masyarakat sumut saat malam hari raya

Sumber: berita.baca.co.id 2020 Merdeka.com

Bagi masyarakat Mandailing Natal, menjaga tradisi ini merupakan sebuah kewajiban. Menurut warga di sana, Lebaran akan terasa tidak lengkap tanpa ada acara Mangalomang.

Dengan adanya tradisi ini, apabila ada warga yang tidak sanggup membuat lemang sendiri, bisa menumpang masak dengan warga lainnya yang ada di daerah itu. Syaratnya, setelah lemang itu masak dibagi bersama-sama kepada warga.

5 dari 6 halaman

Ungkapan Kegembiraan

Tradisi Mangalomang ini ternyata tidak hanya dilakukan saat Idul Fitri dan Idul Adha saja, namun juga dilakukan pada peringatan hari besar nasional, misalnya saat menyambut hari kemerdekaan.

Hal ini karena Mangalomang merupakan ungkapan kegembiraan masyarakat pada hari-hari tertentu, sehingga lemang yang dibuat dimakan secara bersama-sama.

6 dari 6 halaman

Penolak Bala

mengenal mangalomang tradisi masyarakat sumut saat malam hari raya

Sumber: digtara.com ©2020 Merdeka.com

Selain sebagai ungkapan rasa kegembiraan, tradisi ini ternyata bisa juga dilakukan sebagai penolak bala. Misalnya saat lahan pertanian diserang hama, maka biasanya warga akan mengadakan tradisi Mangalomang sebagai penangkal bencana.

Tradisi Mangalomang untuk tolak bala berbeda dengan memasak lemang seperti biasanya. Lemang harus dimasak 7 orang ibu-ibu dan jumlah bambunya harus ganjil. Kemudian ada bahan tambahannya, tidak seperti membuat lemang biasanya yakni dengan memasukkan udang dan ikan-ikan kecil ke dalam bambu.

Kegiatan ini juga dibarengi doa bersama agar terhindar dari segala macam bencana, musibah, malapetaka dan berbagai hal buruk lainnya.

(mdk/far)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami