Lestarikan Badak Sumatra, Seorang Dokter Hewan Dedikasikan Hidupnya hingga Tutup Usia

Merdeka.com - Badak Sumatra merupakan salah satu satwa endemik Sumatra yang keberadaannya kini terancam punah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh banyak pihak untuk menjaga populasi badak yang semakin berkurang jumlahnya.
Di Sumatra sendiri, pusat konservasi badak berada di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Sumatra. Di taman nasional ini berbagai upaya penelitian dan konservasi terus dilakukan untuk membantu memastikan masa depan spesies yang terancam punah ini.
Tak banyak yang tahu, ada seorang dokter hewan yang dikenal penuh pengabdian mendedikasikan hidupnya bagi kelestarian Badak Sumatra.
Marcellus Adi Riyanto, seorang dokter hewan dan ahli konservasi yang berada di barisan depan penelitian veteriner dan reproduksi spesies badak di penangkaran di Indonesia.
Penuhi Panggilan Hati
Sumber: mongabay.co.id ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari mongabay, Marcel merupakan lulusan kedokteran hewan di Institut Pertanian Bogor. Ia jatuh cinta dengan badak pertama kali saat penelitian tesisnya di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta.
Lulus tahun 1983, Ia memenuhi panggilan hatinya untuk bergabung dengan Yayasan Mitra Rhino, organisasi pertama negara yang didedikasikan untuk satwa ini.
Banyak program-program upaya untuk melindungi badak sumatra di Indonesia bisa terlaksana karena Marcel.
“Kontribusi Marcel untuk penelitian dan konservasi Badak Sumatra sangat besar. Informasi tentang badak sumatra yang telah diterima oleh kita sampai saat ini adalah salah satu mahakarya dia.” kata staf di Aliansi Lestari Rimba Terpadu (AleRT), Den Danang Wibowo.
Abdikan Dirinya untuk Kelestarian Badak Sumatra
Marcel datang sebagai dokter hewan di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Way Kambas pada akhir tahun 1990-an. Pada tahun 2000, Marcel menjadi manajer pertama di fasilitas penangkaran itu. Ia melakukan survei taman badak, dan menyajikan serangkaian perbincangan mengenai konservasi.“Beliau seorang pekerja keras, sangat mencintai badak, hal itu juga yang menginspirasi saya. Pada saat itu, tidak banyak dokter hewan ingin menghabiskan hidup di hutan untuk satwa liar. Marcel coba mengubah paradigma dengan konservasi badak. Saat ini, banyak dokter hewan bekerja dengan satwa liar di Indonesia. Marcel memberi contoh baik untuk generasi muda dokter hewan.” kata International Rhino Foundation-Indonesia Coordinator, Sectionov yang juga kolega Marcel selama satu dekade.
Mendirikan Kelompok Konservasi Bernama AleRT
Pada 2009, Marcel meninggalkan posisinya di SRS dan kemudian mendirikan AleRT. Karena kepemimpinannya di SRS, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan WWF Indonesia meminta Marcel merencanakan tempat penagkaran lain di Kalimantan Timur, setelah adanya penemuan kembali badak Sumatra pada 2016.
Ia kemudian mengarahkan pengawasan penyakit dan lebih banyak lagi untuk badak di Kabupaen Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Di sana, Ia bekerja sama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, WWF, sekolah dan entitas lainnya.
Berjuang hingga Akhir Hayat
Marcel jatuh sakit dan meninggal dunia pada 27 April 2020 di Kalimantan. Tepat lima hari setelah ulang tahunnya yang ke-55.Dalam beberapa bulan terakhir sebelum sakit, Ia masih melakukan banyak project untuk membantu penyelamatan Badak Sumatra. Ia merencanakan SRS baru di Aceh Timur, Aceh, di ujung utara Sumatra. Selain itu juga aplikasi pengenalan wajah berbasis artificial intelligence untuk penghitungan yang lebih baik, pelacakan, menentukan jenis kelamin dan menilai reproduksi badak. Termasuk mengumpulkan foto-foto hewan melalui pemakaian perangkat lunak, yang masih berlanjut sampai hari ini.
Sosok Marcel di Mata Koleganya
Semangat dan perjuangan Marcel untuk menjaga kelestarian Badak Sumatra banyak menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Di mata teman-temannya, Ia dikenal sebagai orang yang selalu rendah hati dan berdedikasi tinggi. Cintanya kepada Badak Sumatra akan terus dikenang dan perjuangannya akan terus dilanjutkan oleh rekan-rekannya.“Saya berani bertaruh dia menghabiskan lebih banyak waktu dengan badak ketimbang istrinya. Sampai dia meninggal, dia secara konsisten bekerja untuk Badak Sumatera.” kata Sectionov.“Dedikasinya terhadap badak sumatera seumur hidupnya. Dia rendah hati, namun juga banyak bekerja di dunia internasional. Dia adalah orang yang ceria, periang, sangat disukai dan lebih kreatif dibandingkan kebanyakan ilmuwan.” kata pendiri dan presiden Lembaga Penyelamatan Spesies Langka Indonesia, Claire Oelrichs. (mdk/far)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya