Pilih Tinggalkan Lahan, Begini Nasib Petani Kopi di Mandailing Natal Akibat Pandemi

Pilih Tinggalkan Lahan, Begini Nasib Petani Kopi di Mandailing Natal Akibat Pandemi
Petani kopi. ©2020 Merdeka.com
SUMUT | 26 Juli 2021 11:30 Reporter : Fatimah Rahmawati

Merdeka.com - Pandemi Covid-19 yang sudah melanda lebih dari satu tahun ini sangat berdampak bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, tak terkecuali para petani kopi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara (Sumut).

Salah satu wilayah di kabupaten ini yang terimbas yakni di Kecamatan Ulu Pungkut. Setidaknya ada 900 hektare lahan kopi masyarakat yang tersebar di beberapa desa di kecamatan tersebut.

Akibatnya, para petani kopi di Kecamatan Ulu Pungkut ini mulai meninggalkan lahan mereka lantaran produksi kopi yang anjlok.

"Akibat menurunnya harga jual kopi, para petani saat ini sudah mulai malas mengurus lahan mereka. Bahkan, para petani juga saat ini sudah ada yang mulai meninggalkan lahan mereka. Akibatnya produksi menjadi anjlok," kata Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Mandailing Jaya, Desa Alahan Kae Kecamatan Ulu Pungkut, Andi Hakim Matondang pada Jumat (23/7).

Melansir dari ANTARA, berikut informasi selengkapnya.

2 dari 3 halaman

Harga Beli Kopi Menurun

Pandemi ini membuat permintaan pasar akan kopi dari para petani ini menurun, akibatnya harga beli pun ikut mengalami penurunan.

Andi mengatakan, saat ini pihaknya hanya mampu membeli produksi petani dalam bentuk gabah basah di kisaran harga Rp20-Rp30 ribu per kilogramnya (kg). Harga ini mengalami penurunan sekitar Rp5-7 ribu dibandingkan dengan sebelum pandemi.

Kondisi ini diperparah dengan adanya penerapan PPKM oleh pemerintah di beberapa daerah yang merupakan pelanggan kopi dari KSU Mandailing Jaya.

"Pangsa pasar kopi kita kan kedai-kedai, cafe-cafe, namun di beberapa daerah terkena pemberlakuan PPKM banyak kedai-kedai atau cafe yang tutup, padahal ini merupakan salah satu pangsa pasar kita," sebutnya.

3 dari 3 halaman

Minat Perusahaan Menurun

Minat perusahaan penggiat kopi di wilayah itu pun juga mengalami penurunan. Sebelum pandemi, masih banyak perusahaan-perusahaan kopi di wilayah itu yang mau menampung hasil kopi dari para petani. Namun, saat ini para petani hanya menjual kopinya kepada para pengumpul yang ada di kawasan itu.

KSU Mandailing Jaya sendiri yang sebelumnya bisa mengirimkan produk keluar daerah hingga 900 kg per dua minggunya, namun saat ini hanya mencapai 300 kg saja.

Tak hanya petani kopi, pandemi yang berkepanjangan ini juga berdampak pada para pelaku usaha kopi di wilayah ini. Warung kopi dan kafe di sekitar Panyabungan menjadi sepi pengunjung bahkan tak sedikit yang tutup karena merosotnya penjualan.

Dengan kondisi para petani kopi dan pelaku usaha kopi yang semakin memprihatinkan ini, Andi berharap pemerintah bisa memberikan perhatian yang lebih. Ia berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan Saprodi kepada para petani untuk keberlanjutan produksi kopi yang optimal dan juga bantuan modal untuk para pelaku UMKM kopi.

(mdk/far)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami