4 Dari 10 Karyawan Tanpa Sengaja Menemukan Rincian Upah Rekan Kerja

TEKNOLOGI | 11 Juni 2019 13:00 Reporter : Fauzan Jamaludin

Merdeka.com - Rincian informasi mengenai upah karyawan hanyalah salah satu contoh data pribadi sensitif yang berada di server perusahaan saat ini.

Jika bocor di depan umum karena kurangnya pertimbangan keamanan dan akses, itu tidak hanya dapat merusak semangat kerja tim tetapi juga menyebabkan konsekuensi lebih berbahaya seperti kemungkinan serangan siber, denda regulasi untuk pelanggaran perlindungan data, dan tuntutan hukum dari karyawan yang terkena dampak.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kaspersky, Selasa (11/6), salah satu faktor yang dapat menyebabkan data pekerjaan dapat diakses oleh orang yang tidak berwenang adalah kurang dari setengah (43 persen) karyawan secara berkala memeriksa dan mengubah hak akses dokumen bersama atau layanan kerja koorasi yang mereka gunakan.

"Dalam kebanyakan kasus, bekerja di kantor saat ini berarti bekerja dengan data pribadi dan sensitif. Untuk melindungi diri dari risiko terkait, bisnis harus mulai memperhatikan kesadaran keamanan, perlindungan, dan kebijakan regulasi," ujar Dmitry Aleshin, VP, Product Marketing di Kaspersky dalam keterangan persnya.

Lebih lanjut dikatakannya, setiap kali seseorang meninggalkan perusahaan atau transit ke departemen lain dalam perusahaan yang sama, sangat penting bagi mereka untuk segera mengubah akses ke pihak yang baru. Karena jika tidak, itu dapat menciptakan risiko bagi perusahaan dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Ini hanya sebagian dari masalah besarnya yang disebut 'kekacauan digital (digital clutter)' yang berarti proliferasi yang tidak terkendali dan berbagi file maupun dokumen yang disimpan tanpa ada tindakan pencegahan lebih lanjut.

Kurangnya prosedur dan kebijakan yang berlaku untuk mengatur tatanan digital dapat menyebabkan ketidakjelasan tanggung jawab dan ketidakpedulian umum di antara karyawan mengenai aliran dokumen baik di dalam maupun di luar perusahaan.

Menurut laporan tersebut, hanya sepertiga karyawan (29 persen) yang tahu persis apa yang disimpan dalam setiap dokumen bersama atau akses kepada layanan kerja koorasi.

"Karyawan, dari yang biasa hingga spesialis TI, perlu mengetahui cara menggunakan layanan berbagi file, kerja kooratif, mengenkripsi dokumen penting dan mengenali email phishing. Solusi dan layanan keamanan ini banyak tersedia di pasaran dan dapat membantu mengurangi risiko keamanan tersebut," ujarnya.

(mdk/faz)

TOPIK TERKAIT