5 Alasan Ilmiah Mengapa Kita Habiskan Berjam-jam Untuk Lihat Instagram Story

TEKNOLOGI | 29 Oktober 2019 11:15 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Kepo adalah hal yang sudah jadi makanan sehari-hari para warganet. Aktivitas untuk melihat aneka posting dan Instagram Story dari orang-orang yang kita follow atau tidak difollow, adalah hal yang bisa membuat kita menghabiskan waktu berjam-jam.

Tak bisa dipungkiri, sepertinya kecanduan kita terhadap informasi orang yang kita follow di media sosial adalah hal yang memang sudah mendarah daging. Dengan makin banyaknya orang yang terknoneksi media sosial, hal ini justru tak akan hilang.

Namun mengapa ketertarikan ini ada? Semua itu sebenarnya bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Berikut berbagai pembedahan ilmiahnya.

1 dari 5 halaman

Informasi Memberi Kekuatan

Dalam sebuah jurnal dari para ilmuwan yang meneliti kepuasan pengguna media sosial, disebut bahwa melihat kehidupan seseorang tanpa memberi apapun sebagai gantinya, itu memberi kita tingkat kepuasan tertentu.

Tentu kita melakukan hal ini dengan melihat satu-persatu Instagram Story orang yang kita follow. Namun sejak lama, hal ini pun sudah ada. Itulah mengapa di era sebelum media sosial, kita suka nonton acara reality di televisi, serta acara gosip. Hal ini membuktikan bahwa informasi memberi kekuatan.

2 dari 5 halaman

Evaluasi Diri

Proses evaluasi diri adalah hal yang selalu harus kita lakukan. Masalahnya, seringkali hal ini memicu kegiatan kita untuk 'mencari perbandingan.' Karena tentu kita tidak bisa mengenali bagaimana diri kita kalau tidak mencari perbandingan terhadap seseorang.

Bahkan dalam jurnal penelitian tentang hirarki kebutuhan dan motivasi dalam kepuasan media sosial dari Rochester Institute of Technology, disebut bahwa otak kita secara insting ingin mengkategorikan dan memberi peringkat pada sifat kita sendiri, dibandingkan dengan sifat orang lain.

Cara paling mudah melakukan itu? Tentu dengan melihat bagaimana orang berperilaku dan bersikap lewat twitter, caption Instagram dan Instagram Story yang ia pos.

3 dari 5 halaman

Adaptasi Secara Alami

Manusia adalah makhluk yang spesial. Tidak seperti mamalia lainnya, otak manusia akan selamanya muda. Jadi, otak manusia sudah berevolusi dan 'sudah dari sananya' selalu beradaptasi dan berubah agar siap menerima berbagai tantangan baru. Hal ini disebut Neotony, yang dijelaskan lengkap dalam ilmu Zoologi.

Neotony adalah retensi fitur remaja pada makhluk hidup, dan pada manusia, ini terjadi pada otak kita. Dengan ini, kita akan selalu ingin tahu lebih, dan di satu titik, informasi tak akan pernah cukup dan kita akan selalu mencarinya. Tentu, media sosial memberi semua informasi ini dengan baik, dan dengan menghabiskan waktu berjam-jam untuk tahu informasi terkini dari mutual Anda di Instagram, Anda bisa mendapatkannya dengan mudah.

4 dari 5 halaman

Norma Sosial Berubah

Sebuah studi menyebut bahwa koneksi sosial juga sangat berpengaruh untuk kesehatan. Orang yang kurang bersosialisasi lebih cenderung obesitas, perokok, serta tekanan darah yang tak normal. Namun studi ini menyebut bahwa penyebab intinya bukan soal sosialisasi, namun soal memahami cara seseorang berinteraksi.

Pada akhirnya, bukan tatap muka yang penting untuk sosialisasi, namun keramahan, empati, atau bahkan kesamaan sifat. Tentu, hal ini bisa kita dapatkan di media sosial, tanpa perlu bersosialisasi secara nyata.

Dengan menonton Instagram Story following kita, kita bisa mendapat semua itu: orang yang berempati dengan hal yang juga kita empatikan, orang yang berbuat baik pada orang lain tanpa pamrih, dan orang yang melakukan kegiatan yang memberi pengaruh baik. Semua itu bisa kita dapat TANPA bersosialisasi.

5 dari 5 halaman

Adiktif

Berdasarkan penelitian yang dimuat di Buffer Social, kita seakan-akan disuntik dengan hormon dopamin jika ada orang yang menyukai kiriman kita di media sosial. Sedikit perasaan bahagia tersebut ternyata adiktif, dan hal ini akan membuat kita jadi berlama-lama di media sosial.

Sebagai bagian dari itu, tentunya, kita akan mengonsumsi konten dari orang lain, dan rantai soal membuat IG Story lalu menonton Story milik orang lain tak akan bisa diputus. (mdk/idc)

Baca juga:
Jack Dorsey Kritik Keras Mark Zuckerberg, Soal Apa?
Facebook Sebut Rusia dan Iran Sebar Hoaks Untuk Rusak Pilpres AS 2020
Instagram Sempat Down, Kini Telah Bisa Diakses
ISIS Dilaporkan Gunakan TikTok Untuk Rekrut Teroris
Susi Pudjiastuti Tak Lagi Jadi Menteri Jokowi, Tagar #WeWantSusi Trending di Twitter
Facebook Diinvestigasi 47 Jaksa Agung, Diduga Langgar UU Monopoli
Viralnya Gradient, Aplikasi yang Miripkan Anda Dengan Selebriti

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.