5 Fakta Soal Hujan Meteor Perseid yang Hiasi Langit Malam Indonesia

5 Fakta Soal Hujan Meteor Perseid yang Hiasi Langit Malam Indonesia
Fenomena hujan meteor Perseid. ©REUTERS/Hannah McKay
TEKNOLOGI | 14 Agustus 2019 11:29 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Pada 12 dan 13 Agustus malam hingga subuh waktu Indonesia tadi, fenomena Hujan Meteor Perseid akan bisa disaksikan.

Astronom meperkirakan bahwa akan ada 50 meteor per jam yang melintasi angkasa, meski sinarnya diprediksi kalah dari cahaya Bulan yang mendekati purnama.

Sementara itu, hujan meteor terjadi ketika Bumi berada dekat dengan puing-puing dan debu komet atau asteroid yang melayang di batas angkasa luar. Sedangkan hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi melewati jejak puing dari komet Swift-Tuttle.

Perseids adalah hujan meteor paling populer tahun ini. Pasalnya, ini adalah bintang jatuh yang memiliki ekor terpanjang dan paling spektakuler.

"Mereka menakjubkan," kata Cooke. "Geminid menghasilkan lebih banyak meteor, tetapi mereka hanya terjadi pada pertengahan Desember."

Ketika debu atau secuil kepingan komet bersinggungan dengan atmosfer luar Bumi (setinggi 60 mil dari permukaan tanah), gesekan tersebut menyebabkannya terbakar.

Sebagian besar bintang jatuh yang biasa kita lihat sebenarnya berasal dari kerikil seukuran butiran beras atau lebih kecil.

"Tetapi jika Anda melihat sebuah bola api, ukurannya mungkin lebih besar," kata Bill Cooke, yang memimpin Meteoroid Environment Office NASA. "Bisa sekitar satu sentimeter."

Lalu, apa saja yang harus diperhatikan saat kita hendak menyaksikan langsung hujan meteor atau bintang jatuh? Berikut beberapa di antaranya, seperti dikutip dari Washington Post via Liputan6.com.

Baca Selanjutnya: Lokasi...

Halaman

(mdk/idc)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami