6 Faktor Penting Sebelum Terjun di Bisnis Online

TEKNOLOGI | 29 Oktober 2019 11:15 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sribu.com mengajak para pelaku bisnis tidak sekadar mengikuti tren dan tergiur dengan pertumbuhan transaksi online. Namun, yang terpenting adalah memahami bagaimana memanfaatkan kanal online secara efektif melalui strategi pemasaran digital dengan dampak yang terukur.

Sribu.com merupakan startup yang bergerak di bidang penyediaan jasa solusi konten dan pemasaran digital berbasis crowdsourcing. Berdasarkan data Hootsuite pada Januari 2019, sebanyak 107 juta orang di Indonesia yang melakukan pembelian barang konsumsi melalui e-commerce dengan total nilai transaksi tahunan sebesar lebih dari USD9,5 miliar, atau setara dengan Rp133 triliun.

Melihat besarnya potensi pasar online, tidak sedikit pelaku bisnis konvensional (offline) yang tertarik untuk memasuki pasar online. Dalam perpindahan tersebut, banyak yang berhasil, namun tidak sedikit juga yang berakhir gagal.

Founder dan CEO Sribu Ryan Gondokusumo mengatakan kendala terbesar yang sering terjadi ketika klien datang untuk berkonsultasi mengenai bisnis online adalah kurang matangnya perencanaan manajemen untuk memulai bisnis online dan kesiapan sumber daya manusia untuk menjalankan strategi pemasaran digital yang efektif.

Menurutnya, ada beberapa faktor penting yang perlu dipahami oleh para pelaku bisnis agar dapat sukses merambah bisnis online.

"Pertama, pebisnis harus lakukan riset pasar terlebih dahulu. Pastikan terlebih dahulu apakah produk atau jasa yang ditawarkan banyak dicari oleh target konsumen Anda melalui kanal online, apakah persaingan dengan kompetitor sejenis cukup banyak dan bagaimana peluang Anda untuk memenangkan kompetisi di kanal online. Pemahaman akan ketiga hal ini penting untuk dimengerti supaya strategi pemasaran digital dapat dilakukan dengan tepat," kata dia.

Kedua, dilanjutkannya, edukasi pasar penting untuk dilakukan. Menurut data yang dikutip dari Indonesian E-Commerce Association (idEA), meskipun tingkat penetrasi belanja online terus menerus meningkat, namun saat ini jumlah pengguna belanja online baru sekitar 11-12 persen dari jumlah populasi penduduk Indonesia.

©2019 Merdeka.com

"Ketiga, tidak masalah memulai kecil, dan terus berinovasi. Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan oleh pebisnis ketika mulai merambah ke bisnis online adalah melakukan investasi besar-besaran dalam mengembangkan situs web/ platform belanja online tanpa memiliki target bisnis yang jelas dan terukur," ujar Ryan.

Sebaiknya, pelaku bisnis berinvestasi sesuai dengan fase bisnis yang dimiliki. Mulailah dengan situs web yang sederhana dan terjangkau untuk menguji pasar. Setelah terjadi transaksi dan terus bertambah, maka dapat mulai mempertimbangkan untuk berinvestasi lebih.

Kemudian yang Keempat, pebisnis perlu kenali kanal pemasaran digital yang ada dan tentukan yang sesuai dengan produk/jasa. Ada beberapa kanal beriklan online yang populer seperti Google, YouTube, Facebook dan Instagram di samping memasang iklan pada situs web lain.

"Kelima, tracking dan monitoring. Tracking dan monitoring strategi pemasaran digital sangat penting untuk memastikan bahwa upaya pemasaran digital yang sudah dilakukan tepat sasaran," kata Ryan.

Dan yang Keenam, kata Ryan, memilih partner pemasaran digital yang tepat. Pemilihan partner yang tepat sangat krusial bagi keberhasilan upaya pemasaran digital.

"Pemasaran digital termasuk ranah yang baru di Indonesia. Kendatipun populer, tidak banyak orang yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menyusun dan melaksanakan strategi konten dan pemasaran digital dengan baik," ungkap dia. (mdk/faz)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.