8 Penyakit Mental Manusia yang Juga Dialami Binatang Peliharaan

TEKNOLOGI | 18 Juni 2019 00:01 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Binatang peliharaan di masa kini mendapatkan perlakuan yang sama dengan manusia pada umumnya. Banyak sekali binatang peliharaan yang juga membutuhkan diet serta perawatan kesehatan.

Tapi siapa sangka bahwa semakin kemari, kesehatan mental tak cuma dibutuhkan oleh manusia, namun juga hewan. Hewan peliharaan seringkali mendapat diagnosis penyakit mental, yang akhirnya membuat mereka menjalani terapi dan mengonsumsi obat. Mereka juga akan pulih seperti halnya manusia yang menjalaninya.

Nah, berikut ini beberapa hal soal penyakit mental di hewan dan berbagai penyebabnya, dilansir dari Listverse.

1 dari 8 halaman

Pica

Pica adalah kondisi di mana seekor binatang memakan sesuatu yang bukan makanan. Pica bisa berdasar dari sebuah ketidaknyamanan biasa dari si hewan, namun juga bisa berasal dari gangguan jiwa yang akut.

Permasalahannya adalah keinginan makan makanan yang acak ini tidak terlalu bisa dimengerti penyebabnya, namun dampaknya cukup besar. Ketika kucing atau anjing Anda mengunyah benda berbahaya, seringkali pencernaannya tak kuat dan mereka akan kolaps sehingga Anda akan keluar uang jutaan untuk operasi.

Ilmuwan menyebut bahwa pica bisa berasal dari kekurangan nutrisi, atau masalah gigi. Di kondisi ekstrem, pica muncul dari kebosanan atau kecemasan berpisah dengan peilik atau keluarganya.

2 dari 8 halaman

Gangguan Makan

Deretan istilah seperti Anorexia, Bulimia, serta Binge-eating tentu sudah tak asing di telinga Anda. Penyakit mental yang termasuk dalam gangguan makan ini adalah penyakit mental paling umum yang dialami manusia.

Namun ternyata, binatang peliharaan juga bisa mengalaminya, terutama soal makan berlebihan. Biasanya, hal ini terjadi di pemilik yang mengizinkan peliharaannya makan sesuai keinginannya. Ini pun tak terjadi cuma di anjing dan kucing, namun peliharaan hewan liar lain seperti amfibi, burung, kelinci, landak, ikan, dan lainnya.

Masalah ini disadari ilmuwan karena secara alami, binatang di alam liar tidak pernah mengalami kelebihan berat badan. Binatang di alam liar yang mencari sendiri makanan mereka cenderung lebih fit dan dianggap lebih berbahagia meski porsi makanan sedikit.

3 dari 8 halaman

Trichotillomania

Para pemilik kucing pasti sudah tak asing dengan 'bola bulu' yang sering dimuntahkan kucing akibat mereka menjilati dirinya sendiri untuk perawatan. Ini adalah hal normal dan bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan.

Namun ada beberapa kucing yang terlalu obsesif dalam merawat diri sehingga bulu yang mereka jilat terkikis hingga kulit mereka iritasi. Ini adalah salah satu gangguan mental kucing yang diberi nama Trichotillomania atau singkatnya trich.

Ilmuwan menyebut bahwa ini adalah respons terhadap stres. Pasalnya untuk sebagian besar mamalia termasuk anjing dan kucing, perilaku perawatan akan melepas hormon endorfin yang menenangkan.

4 dari 8 halaman

Autisme

Gangguan autisme memang sudah tidak dianggap sebagai penyakit, karena ini adalah aspek normal dari psikis manusia yang disalahartikan sebagai gangguan di awal temuannya dulu. Hal ini juga didapat dipastikan demikian karena hewan juga sedikit banyak memiliki karakteristik autisme.

Contoh termudah adalah gerakan anjing yang mengejar ekornya sendiri, yang oleh ilmuwan bisa diklasifikasi dalam perilaku autisme. Perilaku ini juga tidak dimiliki semua anjing, dan tidak punya karakteristik dari ras atau persilangan tertentu.

Ilmuwan sendiri melakukan banyak sekali penelitian soal karakteristik autisme mamalia untuk menemukan karakteristiknya di manusia, terlebih soal pengaruhnya terhadap kejang parsial, kondisi kulit, dan pencernaan.

5 dari 8 halaman

Depresi

Depresi adalah penyakit mental yang paling banyak ditemui dan tercatat diidap oleh binatang. Paling sering diteliti adalah primata dan juga tikus.

Namun tanda-tanda depresi dapat dengan mudah kita temukan di kebun binatang, seperti lesu, perilaku kompulsif, nafsu makan terganggu, kurangnya minat seksual, bahkan melukai diri sendiri.

Banyak dokter hewan akan meresepkan antidepresan untuk peliharaan kita di rumah seperti anjing atau kucing yang berperilaku demikian.

Sayangnya, karena kita tidak bisa meminta hewan untuk menceritakan perasaan yang mereka alami, kita akan sadar depresi terjadi pada mereka ketika gejala di atas telah muncul.

6 dari 8 halaman

Kecemasan Berlebih

Stres adalah hal yang juga biasa di dunia hewan, terlebih ketika lingkungan mereka jadi berbahaya, bising, makan tak menentu, dan lain sebagainya. Meskipun stres adalah hal umum, hewan tertentu bisa lebih mudah stres atau stres lebih banyak ketimbang lainnya.

Pada kucing, kecemasan berlebih bisa dilihat dari seringnya bersembunyi, gemetarm agresif, sering bersuara keras, serta tak mau buang air di kotak kotoran.

Jika kondisinya semacam ini dokter hewan tak akan memberikan diagnosis atau obat soal fisik, namun lebih dalam menanyakan ke pemilik kondisi apa yang sedang dialami sang peliharaan. Bahkan ada sesi terapi untuk menenangkan hewan peliharaan jika permasalahan telah ditemui.

7 dari 8 halaman

OCD

Gangguan OCD atau obsesif-kompulsif adalah gangguan pada manusia yang seringkali 'diremehkan.' Ketika seseorang merasa gemas dengan tatanan tak rapi dari suatu hal, ia bisa langsung dilabeli OCD. Namun hal ini ternyata juga bisa ditemukan di hewan peliharaan.

Dalam konteks kucing, kebiasaan OCD di hewan mengeong ini lebih kepada kecenderungan trich dan pica yang telah kami sebut di atas, mengeong tanpa henti, jalan mondar-mandir, dan lain sebagainya. Terkadang, mereka juga bisa merusak furnitur dan tak mau menggunakan tempat pasir kotoran.

Sama seperti penyakit mental pada hewan lain, dokter hewan akan mengesampingkan masalah fisik dan fokus pada perilaku dan lingkungan si hewan, lalu berujung pada terapi.

8 dari 8 halaman

Gangguan Pasca Trauma

Gangguan Pasca Trauma atau kita kenal sebagai PTSD, ternyata juga rentan dialami oleh hewan peliharaan. Hewan-hewan seperti Anjing Polisi, kucing atau anjing yang dibuang, serta anjing dan kucing yang terjebak di bencana alam, adalah yang paling banyak didiagnosis mengalami gangguan pasca trauma.

Hal paling penting yang harus diperlakukan kepada hewan dengan gangguan trauma adalah dosis antidepresan serta tempat yang tenang untuk beristirahat tanpa gangguan.

(mdk/idc)