ActionCOACH: Startup Teknologi Kita Punya Problem Besar di Tiga Isu Ini

TEKNOLOGI | 5 Desember 2019 21:07 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Akselerator bisnis, ActionCOACH, mengungkapkan fakta menarik seputar perusahaan rintisan (startup) teknologi di Indonesia. Menurut akselerator bisnis ini, startup teknologi di Indonesia memang piawai dalam hal teknologi dan strategi bisnisnya. Namun, mereka masih banyak yang tidak piawai dalam hal kepemimpinan (leadership), komunikasi, engagement, dan sebagainya.

Prijono Nugroho, Managing Partner dan Executive Coach ActionCOACH Jakarta, menjelaskan sebagai akselerator bisnis, pihaknya menyediakan jasa coaching atau pelatihan bagi korporasi dan profesional yang ingin lebih baik dalam bisnis atau karirnya. Saat ini startup juga banyak menjadi kliennya, antara lain GoWork, OLX, Traveloka, Gojek, dan sebagainya.

"Kami memberikan coaching bisnis sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, untuk startup teknologi rata-rata mereka minta dibantu dalam hal komunikasi, leadership, dan engagement meski dari sisi teknologi dan strategi bisnis, mereka sudah ahli," ungkap Prijono saat dijumpai di Konferensi BizX 2019 di Jakarta, Kamis (5/12).

Padahal, lanjut dia, aspek komunikasi dan leadership itu juga fundamental bagi suatu dunia usaha dalam skala apa pun termasuk startup.

Marvin Suwarso, Partner dan Executive Coach ActionCOACH Jakarta, menambahkan startup kita masih gagal dalam mengelola sumber daya manusia seiring semakin besarnya skala usahanya. Akibatnya, ada masalah dalam kemampuan memimpin banyak orang dan membangun budaya perusahaan yang diinginkan.

Dia mencontohkan, semula startup ini hanya memiliki 15 karyawan, kemudian bertambah menjadi 50 kartawan dalam tempo singkat. Hal ini menjadi problem bagi startup kita.

"Pengelolaan perilaku karyawan atau sumber daya menjadi problem startup saat ini. Padahal ini juga fundamental karena turut mendukung target perusahaan kan," katanya.

1 dari 1 halaman

Exit plan founder startup

Prijono menyatakan banyak founder startup sekarang meminta jasa actionCOACH dengan berbagai motivasi. Antara lain membantu mengembangkan startup agar valuasinya lebih tinggi sehingga kepemilikan sahamnya bisa dijual ke investor dengan nilai lebih baik. Ada pula motivasi membuat produk baru yang berhasil supaya diakuisisi oleh kompetitor.

Namun, yang jelas ada perubahan mindset dari founder startup yang rata-rata milenial ini saat membangun atau meritis bisnis. Kalau dahulu mindsetnya merintis usaha untuk keluarga dan diwariskan kepada anak-cucu, sekarang merintis dan mengembangkan usaha untuk kemudian menjual sahamnya kepada investor.

"Mindset founder startup sekarang adalah exit plan dengan menjual saham startup yang dirintiskan untuk kemudian merintis startup baru lagi. Jadi tidak lagi megembangkannya sampai besar untuk diwariskan," pungkas Prijono.

(mdk/sya)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.