Ahli Komputer Ini sebut Masih Banyak yang Belum Paham Mengenai Kecerdasan Buatan

TEKNOLOGI | 17 September 2019 10:08 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah menjadi suatu topik yang serius dibahas. Hanya saja masih ada yang beranggapan salah terkait AI. Hal tersebut diutarakan oleh Ahli Komputer dan Biologi Komputasi TED Fellow Luke Hutchison dalam acara CSIS Global Dialogue 2019 di Jakarta pada Senin (16/9).

Dia mencontohkan artikel di majalah Popular Science, majalah yang membahas seputar sains dan teknologi. Menurutnya, artikel-artikel yang tertuliskan dalam majalah itu seolah mengecap AI menjadi sesuatu yang berbahaya dan bisa menjadi liar.

"Apa yang telah saya baca dalam majalah akan saya sebut reportase tanpa tanggung jawab. Tetapi hal tersebut juga menarik karena memang perkembangan AI pesat dan relatif baru. Haruskah kita khawatir?" ujarnya.

Luke menjelaskan bahwa memang suatu saat suatu AI bisa lepas dari kendali manusia. Ini dinamainya AI Spring, sama seperti Arab Spring.

"Itu mungkin saja terjadi. Saya telah bekerja dengan ratusan orang pintar tetapi hanya segelintir yang paham cukup mendalam bagaimana AI bekerja," tandasnya.

Meski demikian, Luke menjelaskan bahwa ketika suatu pengembang hendak menguji coba AI-nya, AI tersebut akan terlebih dahulu menjalani serangkaian tes.

Menanggapi ini, para pengembang telah mengimplementasikan artificial stupidity (AS). AS dapat membantu AI yang kuat dan serba tahu menjadi bisa memberi jawaban layaknya manusia biasa. Kekuatan AI justru diturunkan.

Selain itu, hingga kini, masih ada permasalahan-permasalahan yang AI belum bisa selesaikan. Terdapat empat, yaitu penyelesaian masalah pragmatis, pengambilan keputusan dengan bijaksana, kesadaran akan pemikiran orang lain, dan kesadaran diri.

"AI tidak melakukan semua ini karena mereka bekerja hanya sebatas regresi statistik. Sayangnya kita justru memberi mereka tanggung jawab yang butuh keempat itu. Menyetir contohnya," kata Luke.

Luke mencontohkan dengan tabrakan mobil tanpa pengemudi dari Tesla. Salah satu pengguna, Walter Huang, meninggal pada Maret tahun lalu karena menabrak pemisah jalan.

"Tesla menyatakan bahwa pengemudi punya kesempatan lima detik dan 150 meter sebelum menabrak tetapi data menunjukkan pengemudi tidak melakukan apa-apa. Bukankah itu berarti Tesla juga punya kesempatan lima detik dan 150 meter untuk mobil otomatisnya melakukan sesuatu?" tegas Luke.

Bagi Luke, masalah yang masih kurang ditegakkan dalam dunia AI adalah tanggung jawab pengembang. Lulusan MIT dan Harvard tersebut mengaku tidak pernah ada kelas tentang tanggung jawab dan etika pengembang selama menempuh pendidikannya.

"Bahaya AI yang sebenarnya bukanlah AI jahat yang lepas dari kontrol manusia tetapi AI yang tidak kompeten atau yang digunakan manusia untuk tujuan jahat," lanjut Luke.

Kepercayan berlebih, menurut Luke, menjadi bagian besar dari pengembang. Mereka dikatakan terburu-buru menjual produk AI-nya tanpa memasang sistem keamanan yang prima.

Kemudian, manusia telah menggunakan berbagai cara dengan AI untuk menyebarkan hoaks dan disinformasi dengan teknologi deepfakes dan akun-akun robot di media sosial terutama menjelang pemilu. Kemudian, keseimbangan antara privasi dan keamanan juga kerap buyar ketika AI turun tangan untuk melakukan pengintaian dan pengumpulan data.

Kendati demikian, bagi Luke, AI bukan berarti hanya dipandang sinis tetapi dipandang produktif. Dia menunjukkan konsep Intelligence Augmentation (IA) yaitu menggunakan AI sebagai alat pendukung kemampuan otak manusia.

"AI dapat membantu manusia mencapai tujuan-tujuan besar dalam hidupnya seperti mengautomasi pekerjaan repetitif, mengoptimalkan meeting, dan sebagainya. AI juga dapat membantu kita menyortir, menganalisa, dan memvisualisasikan data besar. AI telah membantu kita untuk membuat keputusan cepat seperti memproses teks dan kata-kata, menganalisa objek dengan kamera, memprediksi, dan sebagainya," tutur Luke.

Luke berpesan untuk selalu mengedukasi diri dan jangan hanya mengikuti kesenangan semata. Pengembang juga perlu untuk memastikan produknya aman, efektif, tidak menyakiti orang jika gagal, dan tidak menjual atau menjanjikan produknya secara berlebihan.

"Kekuatan dari otak manusia dan mesih akan selalu lebih unggul ketika bersatu, bukan ketika salah satu bekerja sendiri," tutup luke.

Reporter Magang: Joshua Michael

(mdk/faz)