AI atau Kecerdasan Buatan, Ditakuti atau Diinginkan?

AI atau Kecerdasan Buatan, Ditakuti atau Diinginkan?
TEKNOLOGI | 30 Mei 2020 10:00 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Kecerdasan buatan adalah teknologi yang papling tersohor abad ini. Meski kita hanya mengenal beberapa di antaranya seperti aplikasi asisten seperti Siri dan Google Assistant, atau di kamera-kamera smartphone, teknologi ini akan jadi inti dari berbagai aspek seperti pekerjaan, kesehatan, hingga perang.

Jadi untuk mengedukasi masyarakat soal apa itu AI atau kecerdasan buatan, itu adalah hal yang penting. Pasalnya, banyak ketakutan yang muncul, mulai dari pekerjaan yang akan segera diganti oleh robot, kecelakaan mobil otonom tanpa tanpa pengemudi, hingga penyalahgunaan senjata perang berbasis AI.

Akhirnya, Future of Humanity Institute dari University of Oxford mengadakan penelitian soal dukungan atau tentangan terhadap kecerdasan buatan.

Relawan penelitian diambil sampel 2.000 orang Amerika Serikat, yang tiap individunya dipilih merepresentasikan demografi AS, yang seimbang secara usia, ras, pendidikan, jenis kelamin, pendapatan, serta preferensi politik.

Nah, dalam jajak pendapat tersebut, kecerdasan buatan didefinisikan sebagai "sistek komputer yang melakukan tugas atau membuat keputusan yang biasanya butuh kecerdasan manusia." Dari definisi tentang AI tersebut, 41 persen responden agak atau mendukung pengembangan AI, sementara 22 persen agak atau sangat menentang pengembangan AI. 28 Persen sisanya tidak yakin.

1 dari 1 halaman

Demografi dan AI

Demografi dari responden juga diperhitungkan dalam penelitian ini. Dalam perannya mendukung AI, ternyata terdapat kecenderungan. Individu muda, berpendidikan, dan berjenis kelamin pria, cenderung mendukung pengembangan AI.

Data soal demografi lainnya nampak dari latar belakang. Lulusan perguruan tinggi 57 persen lebih mendukung AI ketimbang hanya 29 persen individu dengan pendidikan sekolah menengah ke bawah.

Hal ini cukup ironis ketika terdapat penelitian lain yang menyebut salah satu dampak negatif dari AI adalah adanya kesenjangan sosial yang makin lebar.

Aspek menarik lainnya adalah soal regulasi dari AI. 82 persen responden agak atau sangat setuju dengan pernyataan "robot dan kecerdasan buatan adalah teknologi yang membutuhkan manajemen yang hati-hati."

Tentu tata kelola kecerdasan buatan harus berada di bawah manajemen yang apik, jika perlu, Pemerintah harus campur tangan jika tak ingin ada serangan cyber atau senjata otonom.

Hal ini senada dengan pertanyaan soal siapa yang harus diberi tanggung jawab soal AI. Responden menjawab 50 persen adalah peneliti dan ilmuwan dan 49 persen militer.

Bagaimana pendapat Anda? (mdk/idc)

Baca juga:
Teknologi Pengenalan Wajah Pertemukan Ibu dan Anak yang Terpisah 3 Dekade
Asteroid Besar Akan Dekati Bumi, Bahaya?
Buktikan 'Bumi Istirahat,' NASA Dukung Studi Lingkungan Dampak Pandemi
NASA Bakal Bantu Tom Cruise Untuk Syuting Film di Luar Angkasa
Cara Membuat Magnet Lengkap dengan Penjelasannya, Sederhana dan Mudah Dilakukan
Astronom Berhasil Temukan Lubang Hitam Terdekat Dari Bumi, Ini Jaraknya!
Tiongkok Berhasil Daratkan Pesawat Ruang Angkasa, Siap Misi ke Bulan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5