Ambil untung dari kelompok kontroversial, Google dan Facebook dikecam

Ambil untung dari kelompok kontroversial, Google dan Facebook dikecam
Mark Zuckerberg dan Sundar Pichai. ©2017 Merdeka.com
TEKNOLOGI | 19 Oktober 2017 12:03 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Di antara dijunjungnya kebebasan berbicara dan dukungan nyata terhadap nilai-nilai progresif, Facebook dan Google justru meraup keuntungan sebanyak jutaan dollar dari iklan yang mereka dapat dari kelompok anti-imigrasi. Di sisi lain, kedua raksasa internet tersebut adalah pendukung advokasi pro-imigrasi.

Dalam sebuah laporan dari Bloomberg yang dikutip oleh Techcrunch, disebut bahwa Google dan Facebook bekerja dengan Secure America Now, yang menghabiskan jutaan dollar untuk beriklan di platform mereka selama Pemilu AS 2016. Berbagai iklan tersebut kontroversial dan dianggal melukai kebebasan beragama yang harusnya dijunjung tinggi. Salah satu iklan tersebut bahkan menampilkan Mona Lisa mengenakan burqa atau cadar, dan membuat para pengguna internet 'ketakutan' akan nantinya ada lebih banyak pemandangan tersebut di negara mereka.

Parahnya, ini tak hanya iklan banner yang ditempatkan pada berbagai kata kunci populer ketika mereka mengankses Google dan Facebook. Bloomberg menulis bahwa Google bahkan diduga bekerja secara langsung dengan Secure America Now untuk mengembangkan kampanye kontroversial tersebut, sementara Facebook melakukan uji coba untuk mendapatkan optimasi iklan terbaik. Dalam kasus Facebook, sang mantan kepala periklanannya, Andrew Bosworth, mengkonfirmasi bahwa dirinya bekerja dengan agensi periklanan dari SAN.

Tentu hal ini berkebalikan dengan visi dan misi Google dan Facebook dalam pandangan politik. Di awal 2017 lalu, keduanya mengecam keras keputusan Presiden Trump untuk melarang imigran dari berbagai negara mayoritas Muslim untuk datang ke AS, meski akhirnya kebijakan tersebut gagal.

Namun, di sisi lain, kedua raksasa teknologi tersebut membantu memenangkan Presiden yang akhirnya membuat kebijakan anti imigrasi Muslim, bahkan mendapat untung dari hal tersebut. (mdk/idc)


Di depan santri, Jokowi cerita kejamnya media sosial dan foto hoax dengan Aidit
Mabes Polri sebut momen Pilkada pintu masuk terjadi persekusi
Kenyataan pahit aplikasi kencan online
Janji Twitter berantas kebencian, kekerasan, dan pelecehan
Tersandung kasus, Twitter dilaporkan hapus cuitan Rusia soal Pemilu AS
Setelah didatangi, deretan orang ini kapok hina TNI di medsos
TNI AD minta maaf prajuritnya pukul pemuda yang hina TNI di medsos

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami