Bersiap New Normal, Akseleran Siapkan Strategi Mitigasi Risiko Kredit Macet

Bersiap New Normal, Akseleran Siapkan Strategi Mitigasi Risiko Kredit Macet
TEKNOLOGI | 3 Juni 2020 13:57 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Menyambut New Normal atau tatanan normal baru, platform fintech berbasis Peer to Peer (P2P) Lending Akseleran menyiapkan sejumlah strategi untuk memitigasi risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) ketika para pelaku usaha kembali membutuhkan pinjaman.

Meski dibayangi pandemi Covid-19, selama lima bulan terakhir tahun ini Akseleran menyalurkan total pinjaman usaha Rp 300 miliar atau naik 5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Christopher Gultom, Chief Credit Officer & Co-Founder Akseleran, mengatakan Akseleran masih fokus pada sektor konstruksi, pertambangan minyak dan gas, logistik, dan trading. Akseleran tetap berkomitmen untuk menyalurkan pinjaman usaha kepada setiap pelaku usaha yang mengajukan pinjaman (borrower) yang memang layak memperoleh pinjaman sekaligus mendukung mereka di saat situasi sulit seperti sekarang.

“Meski demikian, kami juga selalu memperhatikan untuk memberikan kenyamanan kepada para pemberi pinjaman (lender) Akseleran, terutama dalam masa pandemi seperti ini yang mana setiap lender cenderung lebih konservatif dalam menyalurkan pinjaman. Maka itu, penting buat kami untuk melakukan sejumlah strategi dalam memitigasi risiko terjadinya NPL,” ujar Christopher dalam rilisnya, Rabu (3/6).

1 dari 1 halaman

Tiga Strategi Akseleran

Menurutnya, ada tiga strategi yang disiapkan Akseleran. Pertama, melakukan pengetatan dalam penilaian kredit terhadap calon borrower termasuk penilaian menyeluruh tentang dampak Covid-19 pada bisnis mereka. Kedua, pemantauan portofolio yang berkelanjutan dan ketiga penerapan asuransi kredit yang berkelanjutan.

Akseleran optimistis tingkat NPL-nya dapat tetap terjaga di bawah 1 persen hingga akhir tahun ini.

Christopher mengaku hingga akhir Mei lalu NPL Akseleran masih terjaga stabil di angka 0,67 persen dari total penyaluran pinjaman usaha atau mengalami penurunan sebesar 0,03 persen dibanding NPL akhir April tahun ini.

“Kami terus menerus belajar dari pengalaman untuk selalu konsisten meningkatkan kualitas kredit di Akseleran. Khusus selama masa pandemi, kami meningkatkan credit underwriting standard kami lagi, yang mana kami lebih memilih untuk membiayai invoice financing dibandingkan receivable financing, meski bukan berarti receivable financing tidak bisa. Harapannya, dengan meningkatkan fokus penyaluran menjadi invoice financing, risiko kredit yang ada menjadi lebih kecil sehingga terlihat dalam dua bulan terakhir outstanding dan penyaluran invoice financing di Akseleran lebih besar daripada PO Financing. Artinya, mitigasi risiko yang baru tersebut sudah terimplementasi dengan baik,” paparnya.

Kami mendukung apa yang pemerintah lakukan. Ini bagus untuk tumbuhnya kembali dunia usaha dan berharap ada kenaikan penyaluran pinjaman usaha di Akseleran sekitar 35 persen pada Juni, yang terus berlanjut sampai akhir tahun dengan harapan lainnya agar tidak ada gelombang kedua dari pandemi, pungkas dia.

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5