Bos Huawei Sebut Apple Jadi Panutan Soal Perlindungan Privasi Konsumen

TEKNOLOGI | 9 Juli 2019 13:15 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei, mengatakan kepada Financial Times, bahwa perusahaannya memang diminta oleh pemerintah Tiongkok untuk membuka kunci perangkat-perangkatnya. Namun, ia mengikuti langkah Apple dan menolak melakukannya.

Dilansir Phone Arena, Selasa (8/7), Zhengfei menyebut Apple sebagai panutannya soal perlindungan privasi para konsumen.

CEO Apple, Tim Cook, dikenal dengan perkataannya bahwa Apple tidak akan menjadikan konsumennya sebagai produk.

Selain itu, Zhengfei mengatakan data dimiliki oleh para konsumen Huawei. Soal pelacakan itu tergantung pada operator, bukan perusahaan yang memproduksi ponsel.

Kendati telah berulang kali menegaskan komitmenya soal privasi, pemerintah Amerika Serikat (AS) tetap tidak mempercayai Huawei.

Bahkan, Chairman Huawei, Liang Hua, sampai menawarkan untuk menandatangani dokumen "no-spy" dengan negara mana pun. AS menuding Huawei menjadi kaki tangan pemerintah Tiongkok untuk memata-matai negara lain.

"Kami tidak akan pernah melakukan hal seperti itu (menjual data konsumen). Jika kami pernah melakukannya sekali saja, AS akan memiliki bukti untuk menyebarkannya ke seluruh dunia. Lalu 170 negara dan wilayah operasional kami akan berhenti membeli produk-produk kami, dan perusahaan kami akan bangkrut," ungkap Zhengfei.

"Setelah itu, siapa yang akan membayar utang kami? Semua karyawan kami sangat kompeten, sehingga mereka akan mengundurkan diri dan memulai perusahaan mereka sendiri, lalu meninggalkan saya sendiri untuk melunasi utang kami. Saya lebih baik mati," sambungnya.

Zhengfei pun menekankan penilaian pemerintah AS tidak berdasar, karena pemerintah Tiongkok mengatur perusahaan swasta seperti Huawei, melalui undang-undang dan perpajakan.

Zhengfei juga mengatakan, Tiongkok tidak mengintervensi operasional bisnis Huawei. "Saya tidak tahu mengapa pemerintah AS mengontrol semua perusahaan teknologi seperti yang mereka lakukan. Mereka bertindak seperti ibu mertua, dan jika mereka terlalu terlibat, menantunya akan lari," tuturnya.

AS tidak hanya menuding Huawei sebagai mata-mata Tiongkok. Negeri Paman Sam tersebut beberapa waktu lalu menerapkan peraturan yang melarang Huawei menggunakan produk-produk buatan perusahaan AS.

Pekan alu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, sepakat untuk menangguhkan perang dagang kedua negara. Trump mengatakan, Tiongkok setuju untuk membeli produk-produk pertanian AS. Ia juga mengungkapkan, perusahaan AS bisa menjual produk mereka kepada Huawei.

Kendati demikian, menurut laporan, sejauh ini Huawei masih berada di daftar hitam perdagangan AS. Selain itu, belum ada perusahaan AS yang mengumumkan rencana untuk melanjutkan kerja sama dengan Huawei.

Sumber: Liputan6.com

Reporter: Andina Librianty

(mdk/faz)

TOPIK TERKAIT