Cara Mudah Kenali Konten Hoaks, Sudah Tahu?

TEKNOLOGI | 24 November 2019 06:00 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Di era media sosial di mana informasi sangat mudah diakses, kita justru tenggalam dalam ironi di mana kita terlalu percaya terhadap sesuatu yang dipaparkan untuk kita di berbagai platform tersebut.

Hoaks pun sangat mudah untuk muncul di dunia maya. Bagaimana tidak, hoaks sisa membuat sebuah informasi terlihat lebih menarik untuk dibaca.

Namun jangan khawatir karena sesungguhnya 'penyakit' hoaks ini bisa dicek faktanya hanya dengan satu dua langkah saja. Kita hanya perlu sedikit 'skeptis' untuk tidak langsung percaya semua konten yang disuguhkan pada kita.

Berikut ada beberapa cara untuk mencari tahu apakah sebuah kabar termasuk hoax atau bukan. Berikut ulasannya!

1 dari 3 halaman

Pola Pikir yang Harus Ditanam Untuk Tak Mudah Percaya

Anda perlu sadar bila hoax adalah kabar palsu yang sengaja disebar untuk membuat kehebohan publik. Kehebohan ini biasanya memberikan keuntungan bagi si penyebarnya. Jadi, percaya hoaks, berarti menguntungkan orang lain dan merugikan Anda.

Hoax bisa berupa email, pesan broadcast, hingga SMS. Saat ini, hoax banyak ditemukan di sosial media, terutama Facebook. Banyak artikel hoaks yang sengaja dipasang untuk mengelabuhi publik dan mendapat Like semata.

Hoaks biasanya diawali kata-kata sugestif dan heboh. Bahkan, ada beberapa hoax yang cukup provokatif dan menyebabkan masalah di masyarakat. Contohnya 'Awas, virus mematikan menyebar di Indonesia', 'Sebar kabar ini segera, jika tidak...'

Kerapkali, sebuah hoaks ditandai dengan headline yang menyebut kontennya, 'bukan hoaks'. Contohnya, "Bukan Hoaks, Asteroid Akan Hantam Bumi Minggu Depan!"

2 dari 3 halaman

Bawa Nama Perusahaan Besar, Namun Tak Ada di Media

Isi hoax kerap mencatut nama-nama ilmuwan atau lembaga terkenal. Hal ini penting, sebab nama-nama populer dan berpengaruh bisa membuat hoax lebih mudah dipercaya. 'NASA Sebut Antartika Akan Mencair dan Bumi Akan Tenggelam!'

Berita hoaks terdengar mustahil terjadi, sehingga kerap disertai hasil penelitian palsu. Sekali lagi, penelitian ini hanya dibuat-buat atau merekayasa hasil sehingga nampak 'wow' dan membuat penasaran publik.

Hoaks tidak muncul di media-media massa dan hanya diketahui lewat pesan berantai. Media massa atau online yang terpercaya biasanya sudah terbiasa menyaring berita-berita hoaks.

Jadi, bila kabar heboh yang Anda terima tidak muncul di media, besar kemungkinan kabar itu palsu. Tidak jarang media justru mengklarifikasi adanya kabar hoaks.

3 dari 3 halaman

Penjudulan

Kalimat hoax banyak ditulis dengan huruf kapital dan tanda seru. Penggunaan huruf kapital bisa merangsang pembaca untuk fokus dan lebih mudah mengingat.

Pada hoaks berupa artikel panjang, penggunaan huruf kapital membantu pembaca agar tidak mudah bosan.

Hal ini sebenarnya sudah jadi budaya dalam penjudulan konten di YouTube. Namun Anda harus berhati-hati jika menemukan ini di forward-an artikel di group WhatsApp, Facebook, atau media sosial lainnya. (mdk/idc)

Baca juga:
Tim IT Polri Bakal Pantau Medsos Anggota Polisi Pamer Kemewahan
Bos TikTok: Konten Politik Boleh Asal Kreatif dan Menyenangkan
Instagram Dilaporkan Tetap Diminati Influencer, Meski Tanpa Like
WhatsApp Digunakan 83 Persen Pengguna Internet Indonesia
Aplikasi Akses Kamera Tanpa Izin, Facebook Akhirnya Perbaiki Bug
Perusahaan Induk TikTok Akan Rilis Aplikasi Streaming Musik
BNPT Sebut Atasi Teror Tak Bisa Sekadar Pembatasan Konten Negatif di Medsos

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.