Catatan Kemerdekaan RI: 'Branding' Domain .ID di Kancah Nama Domain Internet Global

TEKNOLOGI | 17 Agustus 2019 14:45 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Pernah mendengar nama-nama ini: Dream.co.id, Tirto.id, atau JD.id?

Dua nama pertama mungkin Anda akan menyebutnya sebagai nama portal berita online. Sedangkan nama terakhir sebagai nama dagang online sebuah perusahaan asal China. Anda tak keliru memang.

Namun, lebih dari itu, kita juga bisa menyebutnya sebagai nama domain internet. Lebih spesifiknya, nama domain yang merepresentasikan Indonesia. Ya, .id (baca: dot id) merupakan country code top level domain (CC-TLD) untuk negara Republik Indonesia. Ini kesepakatan komunitas internet dunia lewat lembaga Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) --sebelumnya lewat Internet Assigned Numbers Authority (IANA).

CC-TLD dot id didaftarkan sebagai domain milik Indonesia pada 27 Februari 1993 oleh M Rahmat Samik Ibrahim, seorang dosen Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia (buku Domain ID dan Identitas Negeri: Perjalanan Pengelolaan Domain Internet Indonesia, hlm 28, penerbit PANDI, 2019).

Seiring dinamika nama domain internet di Indonesia, saat ini pendaftaran dan pengelolaan nama domain .id dan tingkat duanya, seperti .co.id, .or.id., .net.id, dan .ac.id dilakukan oleh perkumpulan bernama Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) sejak 29 Juni 2007. Yang diperkuat keputusan menteri komunikasi dan informatika RI No 086 Tahun 2014 yang menetapkan PANDI sebagai Registri Nama Domain Tingkat Tinggi Indonesia.

Pada konteks hari ini (17/8), hari kemerdekaan ke-74 RI, domain dot id telah menjadi identitas Indonesia di komunitas internet global. Domain dot id ibarat 'bendera merah-putih' atau 'burung garuda' yang diakui sebagai bendera nasional atau lambang negara Republik Indonesia. Domain dot id juga menunjukkan kedaulatan RI di komunitas internet dunia.

Maka itu, PANDI sebagai pengelola nama domain internet Indonesia, harus senantiasi menegaskan domain .id sebagai identitas Indonesia di dunia. Lalu berupaya secara strategis meningkatkan penggunaan domain .id dari saat ini yang berada di kisaran 300 ribu nama.

Menurut laman PANDI.id, total domain terdaftar per hari kemerdekaan RI, Sabtu (17/8), sebanyak 328.378 nama. Berikut perincian jumlah domain terdaftar di PANDI per Juli tahun ini:

1. dot id sebanyak 124.096 nama domain
2. co.id: 111.593
3. web.id: 31.519
4. sch.id: 21.780
5. or.id: 9.411
6. desa.id: 8.437
7. my.id: 6.738
8. ac.id: 4.878
9. go.id: 4.106
10. biz.id: 2.027
11. net.id: 497
12. mil.id: 354
13. ponpes.id: 320

Domain sebagai brand

Selain domain .id menjadi identitas dan kedaultan Indonesia di dunia internet, dalam konteks kekinian, nama domain .id juga mengalami peningkatkan 'value' menjadi merek (dagang), terutama bagi dunia usaha yang ingin memperluas cakupan mereknya di jagat maya.

Tak heran, sering kita jumpai perusahaan-perusahaan terkenal memakai nama mereknya sebagai nama website perusahaannya. Seperti yang disebut di awal; JD.id, pemain e-commerce asal China yang ekspansi ke pasar Indonesia pada 2016.

"Fungsi nama domain juga sudah banyak berubah. Jika awalnya hanya digunakan agar mudah diingat, kini domain juga diasosiasikan dengan merek dan marketing. Pemilihan domain tidak hanya sekadar nama yang mudah diingat, tapi ada aspek branding juga," ujar Bob Hardian, pegiat nama domain dan dosen di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, yang dikutip dari buku Domain ID dan Identitas Negeri: Perjalanan Pengelolaan Domain Internet Indonesia (penerbit PANDI, 2019).

©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Teddy Arifianto, Head of Corporate Communications and Public Affairs JD.id, menjelaskan alasan perusahaan menggunakan .id ketimbang domain lain seperti .com. Ini kebijakan global JD bersama mitra lokalnya di Indonesia.

"Kami memilih dot id karena di mana pun JD bangun bisnis, ingin menjadi bagian di wilyah itu. Karena ada di Indonesia, kami pilih dot id. Untuk mempertegas identitas kami ingin menjadi bagian Indonesia. Ini satu hal logis dan strategis, selain mudah diingat orang. Jadi kami pilih dot id daripada dot com, karena kami ingin jadi bagian Indonesia. JD jadi beda karena dot id," ujar Teddy saat dihubungi Merdeka.com, baru-baru ini.

Menurut Teddy, dengan memilih nama domain JD.id, pihaknya merasa memiliki dampak psikologis, yakni 'kedekatan' dengan pasar Indonesia. Selain mereknya lebih unik dengan domain .id. Untuk dampaknya lain, pihaknya belum menghitung seperti dampak secara markting dan penjualan.

"Yang jelas, dampaknya positif menggunakan dot id seperti lebih ringkat namanya sehingga mudah diingat konsumen dan non-mainstream," pungkasnya.

Heru Nugroho, Wakil Ketua PANDI, menambahkan domain .id semakin menarik perusahaan atau merek dunia. Saat ini beberapa website populer menggunakan .id, seperti JD.id. Mereka adalah EF.id (lembaga pelatihan bahasa asing), Ovo.id (mobile payment), CGV.id (jaringan bioskop), Dell.id (komputer), dan Airfrance.id (maskapai Perancis).

"Laman-laman tersebut membuat brand awareness domain .id meningkat di dunia," ucap Heru saat media gathering, Juni lalu.

Branding ke luar negeri

Upaya meningkatkan branding domain .id pun dilakukan PANDI yang dimiliki ketua baru, Yudho Giri Sucahyo, Ketua PANDI periode 2019-2023.

©2019 Merdeka.com

Menurut guru besar Universitas Indonesia ini, pengguna nama domain .id mengalami pertumbuhan setiap tahun. Namun, jika dibandingkan populasi Indonesia, maka jumlah pengguna domain .id terbilang sedikit. 265 juta jiwa banding 328 ribu nama domain!

Maka itu, PANDI menyiapkan sejumlah jurus untuk meningkatkan 'branding' .id agar lebih banyak digunakan. Tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Strategi memasarkan domain .id ke luar negeri menjadi fokus PANDI selama semester II tahun ini. Apalagi negara lain yang memiliki nama domain menarik, seperti .co (mewakili negara Kolombia), .me (Montenegro), dan .tv (Tuvalu) juga melakukan strategi serupa dan berhasil. Ada persaingan dengan domain negara lain di sini.

"Karena pasar luar negeri besar sekali, kelebihan nama domain .id yang merepresentasikan 'idea' atau 'identity' merupakan berkah tersendiri yang hanya dimiliki nama domain .id. Hal ini harus dimanfaatkan supaya penjualan di luar negeri meningkat pesat," kata Yudho saat media gathering.

Menurut data PANDI, domain .co (Kolombia) kini digunakan lebih dari 1,2 juta di dunia. Sementara domain .me digunakan lebih dari 800 ribu di dunia, sama dengan .tv. Bahkan dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura saja, .id juga tertinggal. Karena pengguna .my mencapai 360 ribu domain, sedangkan .sg lebih dari 118 ribu domain.

Kemudian dari 328 ribu domain .id, baru 4 persen digunakan di luar negeri alias sekitar 14 ribu domain. Sebanyak 96 persen digunakan di dalam negeri atau setara 305 ribu nama.

"Jika domain .id banyak digunakan di luar negeri, ada potensi pemasukan devisa bagi negara. Sebaliknya, jika lebih banyak domain asing digunakan seperti .com, maka lebih banyak devisa negara ke luar," pungkas Heru Nugroho.Good luck PANDI!

(mdk/sya)