CSIS Sebut Grab Berikan Keuntungan Rp 46,14 Triliun Buat Pengguna Jabodetabek

TEKNOLOGI | 23 Juli 2019 15:38 Reporter : Fauzan Jamaludin

Merdeka.com - Centre for International and Strategic Studies (CSIS) dan Tenggara melakukan riset terkait dengan kontribusi ekonomi digital terhadap masyarakat. Objeknya adalah Grab. Riset ini diklaim sebagai penelitian satu-satunya di Asia Tenggara yang meneliti dampak dari Grab kepada masyarakat dengan big data.

Riset ini sebagian merujuk konsep professor ekonomi dari Stanford University, Timothy Bresnahan yang berpendapat bahwa nilai dari dampak limpahan ini dapat diperkirakan dengan menghitung surplus konsumen.

Surplus konsumen adalah manfaat yang diperoleh konsumen dari membeli barang atau jasa pada harga yang lebih rendah dari jumlah harga maksimal yang sebenarnya rela mereka bayar.

"Jika riset dilakukan sebatas bagaimana puas tidak dengan layanan Grab, hal itu dapat dilakukan. Tapi ada cara lain yang bisa dilihat yakni dengan surplus konsumen ini," ujar Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal kepada awak media di Jakarta, Selasa (23/7).

Dilanjutkannya, "Jadi contohnya misalkan begini, saya bisa mendapatkan transportasi dengan kualitas yang bagus dan harga yang sesuai. Bahkan saya berani membayar Rp 100 ribu, sementara ternyata hanya bayar Rp 75 ribu, nah itu yang disebut sebagai surplus dari konsumen. Studi kita mencoba mengukur surplus konsumen tersebut."

Lantas, bagaimana dengan hasil dari riset tersebut?

CSIS menyimpulkan bahwa Grab khususnya di kawasan Jabodetabek telah memberikan kontribusi surplus konsumen pada tahun 2018 sebanyak Rp 46,14 triliun. Nilai itu, surplus konsumen yang diperoleh konsumen GrabBike mencapai Rp 5,73 triliun, sedangkan GrabCar berkontribusi sebesar Rp 40,41 triliun.

Riset ini dilakukan dalam rentang 7 sampai dengan 27 Mei 2018 dan 2 Juli hingga 2 Agustus 2018. Data-data yang diolah berdasarkan dari dataset mahadata 215 juta observasi GrabBike dan 642 juta observasi Grabcar. Data ini tidak termasuk sesi yang mempengaruhi guncangan eksternal seperti Ramadan dan akuisisi Uber oleh Grab.

"Ini merupakan salah satu studi awal mengenai consumer welfare dengan menggunakan data Grab. Ada 1,5 miliar data point yang kami coba analisa, menjadi pengalaman tersendiri di dunia penelitian," tuturnya.

(mdk/faz)

TOPIK TERKAIT
BERI KOMENTAR
Join Merdeka.com