Dianggap 'Keras', Psikolog Justru Sebut PUBG Bukan Sumber Kekerasan

Dianggap 'Keras', Psikolog Justru Sebut PUBG Bukan Sumber Kekerasan
TEKNOLOGI | 30 Oktober 2020 20:20 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Diwacanakannya untuk melabeli haram kepada gim Battle Royale populer yakni PUBG atau PlayerUnknown's Battlegrounds, masih sedang digodok. MUI kini sedang di tengah pengkajian fatwa tersebut dan disebut akan membuahkan hasil pada April mendatang.

Bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), asosiasi esports Indonesia, serta psikolog, MUI sepakat pembatasan dan pelarangan terhadap seluruh gim termasuk PUBG sangat perlu untuk diterapkan.

Pembatasan ini termasuk klasifikasi usia pemain, konten gim, waktu bermain, dan dampak yang ditimbulkan, agar masyarakat bisa mendapatkan lebih banyak manfaat dari bermain gim.

Hal tersebut diungkapkan dalam acara Focus Group Dicusion (FGD) dengan tema "Games Kekerasan dan Dampaknya bagi Masyarakat" di kantor pusat MUI di Jakarta, pada 26 Maret 2019, melansir Tekno Liputan6.com.

Nah, bagaimana aspek kerasnya gim PUBG ini jika dilihat dari perspektif psikologi? Merdeka.com mengutip laporan dari Liputan6.com yang mewawancarai seorang Psikolog anak dan keluarga, yakni Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si.

Beliau menyebut bahwa memang benar semua gim yang mengandung kekerasan memang bisa memberikan dampak negatif bagi pemain.

"Memberi dampak negatifnya itu karena bisa menjadi 'referensi' bagi si pemain. Ketika mengalami kondisi tertentu, bisa saja referensi ini diaktifkan, sehingga pemain lebih rentan meniru atau melakukan perilaku agresif yang dimunculkan di gimnya," kata psikolog yang akrab dengan sebutan Nina ini kepada Tekno Liputan6.com.

Namun, lanjut dia, faktor pendorong seseorang berperilaku agresif tidak hanya berasal dari gim yang dimainkan, tetapi juga dipicu banyak hal. Salah satunya yaitu kepribadian dari pemain gim tersebut.

"Misalnya kepribadian, jika pemain pada dasarnya berkepribadian matang dan penuh cinta kasih, maka tentunya tidak terlalu mudah terpengaruh gim," katanya.

Tak hanya itu, faktor lingkungan hingga pendidikan yang didapat di sekolah, keluarga, masyarakat juga akan berpengaruh. Jika lingkungan cenderung kasar dan agresif, akan lebih besar kemungkinan bagi seseorang terdorong melakukan perilaku agresif dibandingkan jika lingkungannya tenang atau bijak.

Ada pula faktor kemampuan diri. "Misalnya kalau ia memang mampu menggunakan senjata dan tubuhnya kuat, lebih mungkin meniru dibandingkan dengan yang tubuhnya lemah dan mengalami kesulitan menggunakan senjata," ungkap Nina.

Baca Selanjutnya: Moralitas dan Batasan Usia...

Halaman

(mdk/idc)

TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami