Digitalisasi Aksara Nusantara Selangkah Lagi

Digitalisasi Aksara Nusantara Selangkah Lagi
ilustrasi internet. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/Syda Productions
TEKNOLOGI | 8 Desember 2021 19:46 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Setahun belakangan, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) begitu sibuk. Organisasi nirlaba yang mengurus nama domain internet Indonesia sedang mengusahakan agar aksara non latin seperti Jawa, Sunda, Bali, dan lain sebagainya dapat di digitalisasi dalam format Internationalize Domain Name (IDN).

Upaya yang dilakukannya itu, bukan tanpa sebab. Sepuluh tahun lalu, beberapa negara berbondong-bondong mendigitalisasikan aksara non latin sebagai bentuk simbol kebudayaan yang mereka miliki sekaligus menyejajarkan aksara non latin.

"Tahun 2010, aksra non latin mulai didigitalisasi. Beberapa negara seperti Uni Emirat Arab (UEA), Rusia, China, Jepang sudah melakukannya. Sampai saat ini, sudah ada 62 aksara non latin yang dilahirkan dari 43 negara," kata Heru Nugroho saat konferensi pers bersama Kemenko PMK di Jakarta, Rabu (8/12).

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama, dan Marketing PANDI itu mengatakan, untuk bisa mendigitalisasikan aksara non latin, ternyata bukan perkara mudah. Heru mengakui PANDI mendapatkan penolakan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) ketika mengajukan aksara non latin nusantara.

"Pada pertengahan 2020 kami mencoba mengajukan aksara Jawa ke ICANN namun ditolak," ungkapnya.

Penolakan tersebut, kata Heru, ada empat alasan yang disampaikan oleh organisasi dunia yang mengatur pendaftaran domain itu. Pertama, aksara yang diajukan belum tercantum secara eksplisit pada setiap dokumen negara di tingkat pusat. Kedua, aksara Jawa masih dianggap sebagai materi pendidikan. Ketiga, ICANN memandang aksara non latin di Indonesia masih dianggap sebagai sesuatu hal yang dekoratif.

"Dan yang keempat, belum digunakan oleh masyarakat pada platform digital. Keempat alasan inilah yang disampaikan ICANN kepada kami," jelas dia.

Akhirnya, PANDI mau tidak mau turut menata kembali keperluan mendasar supaya nantinya aksara non latin nusantara dapat dipindah dalam bentuk IDN. Beragam cara dilakukan seperti menyusun Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) aksara nusantara yang mencakup font dan papan tombol aksara Nusantara.

PANDI menggandeng para pegiat aksara nusantara, perwakilan Badan Standardisasi Nasional (BSN), perwakilan Kemenko PMK, dan perwakilan Asosiasi Industri Teknologi Informasi Indonesia (AITII). Singkat cerita, saat ini sudah ada tiga aksara yang SNI, yakni Jawa, Sunda, dan Bali.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK Didik Suhardi mengatakan, selain tiga aksara yang sudah ber-SNI, terdapat 17 aksara nusantara yang berpotensi untuk digitalkan.

"Kami dari Kemenko PMK akan berkoordinasi dengan Kemendibud Ristek, Perpustakaan Nasional, Badan Bahasa, dan Kemkominfo yang punya tanggung jawab pada perizinan digitalisasi agar masuk perangkat industri," kata dia.

(mdk/faz)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami