Grab dan Uber tak ambil pusing ajakan pengemudinya pindah ke Go-Jek

TEKNOLOGI | 22 April 2016 13:01 Reporter : Fauzan Jamaludin

Merdeka.com - Heboh video aksi CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, mengajak pengemudi GrabBike dan Uber Motor untuk pindah ke Go-Jek dengan iming-iming menarik, menjadi sorotan banyak pihak. Bagaimana tidak, selain langsung diterima, Nadiem, menjanjikan jika perusahaannya akan memberikan tarif menguntungkan, bonus berlimpah, serta puluhan ribu orderan dari layanan lain Go-Jek.

Terkait hal itu, dua pemain ridesharing tersebut sepertinya tak menjadikan hal ini sebuah persoalan yang serius. Justru mereka seolah tak mempedulikan pernyataan dari bos Go-Jek dalam video tersebut. Hal itu terbukti dari pernyataan Dewi Nuraini, PR Manager untuk GrabBike dan GrabExpress, Grab Indonesia, yang tak ingin berkomentar terkait kampanye bujuk rayu dari Go-Jek.

"Kita tidak bisa kasih komentar mengenai kampanye dari sebelah. Mohon maaf sekali ya. Tapi yang jelas, untuk GrabBike kita masih beroperasional seperti biasa," ujarnya ketika dihubungi Merdeka.com, Jumat (22/4).

Berbeda dengan Uber, melalui tulisannya di dalam blog resminya, Uber seakan menantang kompetitornya untuk 'bertarung' habis-habisan menawarkan layanan yang baik bagi para pengguna dan pengemudinya.

"Kompetisi menawarkan lebih banyak pilihan bagi pengguna dan pengemudi, meningkatkan kualitas dan pelayanan, serta mendorong inovasi. Kami menyukai pilihan. Kami senang dengan kompetisi. Fokus kami adalah memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dengan kualitas terbaik, aman, dapat dipercaya dan terjangkau baik itu kendaraan roda dua atau roda empat," tulisnya dalam blog resminya, newsroom.uber.com.

Dalam video yang diunggah itu, CEO Go-Jek mengumumkan adanya program "Kembali ke Merah Putih." Lewat program ini, semua pengemudi GrabBike dan Uber Motor akan langsung diterima bila bersedia pindah ke Go-Jek. Namun sayangnya, niat kampanyenya itu justru jadi cibiran netizen. Pasalnya, banyak netizen yang menilai jika aksi yang dilakukan bos Go-Jek itu, tidak semestinya dilakukan dalam usaha marketingnya.

Baca juga:
Kata pengamat soal video Go-Jek ajak pengemudi Grab bergabung
Menkominfo: Technopreneur baru lebih barokah ketimbang cari kerja
Belum ada rumusan soal TIK buat dukung ekonomi digital Indonesia
Rekruta dapat dana segar dari East Venture
Telkom ajak startup berguru ke Silicon Valley
Masuk Indonesia, HooQ sebut punya kantor dan pusat pengembangan

(mdk/idc)