Ilmuwan Perkirakan Terdapat Samudera Luas di Permukaan Pluto

TEKNOLOGI | 27 Mei 2019 13:00 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Ilmuwan baru-baru ini gencar meneliti soal Pluto yang ditengarai memiliki samudera yang luas di bawah permukaan planet kerdil ini.

Meski demikian, ilmuwan masih belum bisa memastikan letak samudera tersebut, mengingat Pluto ditutupi awan gas dan membuat mereka sulit melihat letak persisnya.

Dugaan ini didasari dari riset laporan pesawat New Horizon milik NASA, yang mengeksplorasi planet kerdil pada Juli 2015 lalu. Dilansir laman Mirror via Tekno Liputan6.com pada Rabu (22/5/2019), New Horizons mengirim beberapa gambar Pluto dan bulan-bulannya.

Setelah menganalisa gambar-gambar tersebut, ilmuwan semakin yakin kalau bagian di bawah permukaan Pluto adalah samudera es, yang ukurannya sebesar negara bagian Texas di Amerika Serikat (AS). Samudera tersebut dinamai Sputnik Planitia.

Ilmuwan dari Universitas Hokkaido, Institut Teknologi Tokyo, Universitas Tokushima, Universitas Osaka, Universitas Kobe, dan Universitas California meyakini kalau samudera tersembunyi ini sudah beku sejak jutaan tahun yang lalu.

Dalam studi terbaru yang diterbitkan via jurnal Nature Geoscience, ilmuwan menciptakan simulasi komputer yang mencakup bentang waktu 4,6 miliar tahun, di mana Tata Surya mulai terbentuk.

Simulasi ini dilakukan agar mereka bisa memahami mengapa Pluto bisa menyimpan samudera di bawah permukaannya.

Hasil simulasi memperlihatkan kalau bagian permukaan Pluto sebetulnya sulit untuk membeku.

Karenanya, proses pembekuan samudera tersebut memakan waktu dari satu juta hingga satu miliar tahun lamanya.

Ilmuwan percaya kalau lapisan samudera ini terbuat dari metana yang berasal dari inti bebatuan Pluto.

Bebatuan tersebut juga berasal dari atmosfer Pluto yang kaya dengan nitrogen, tetapi tidak terlalu banyak menyimpan metana.

"Kami akan terus mempelajari asal usul samudera ini. Kami percaya pasti akan ada lebih banyak samudera di alam semesta ini, di planet, dari yang kami kira. Mungkin saja samudera-samudera tersebut bisa membantu kami untuk mengamati proses terbentuknya Tata Surya," ungkap profesor Shunichi Kamata yang merupakan ilmuwan dari Universitas Hokkaido.

Sumber: tekno Liputan6.com
Reporter: Jeko I.R

Baca juga:
Ini yang Akan Terjadi Jika Umat Manusia Pindah ke Mars
Ilmuwan Sebut Nenek Moyang T-Rex Ternyata Mungil, Tak Sampai 1 meter!
7 Kesalahan Penelitian Yang Berguna dan Akhirnya Tetap Dipakai
5 Teori Konspirasi Yang Terbukti Benar Adanya
Banyak Film Baru, Ini Rahasia Posisi Duduk Terbaik di Bioskop Menurut Sains!
Teori Sains Menyebut Bahwa Waktu di Alam Semesta Bisa Berhenti Total, Benarkah?
Pertama Dalam Sejarah, NASA Berhasil Rekam Gempa di Mars

(mdk/idc)