Kesenjangan Digital Masih Jadi Masalah Besar di Indonesia

TEKNOLOGI | 17 September 2019 09:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Indonesia, menurut CEO GDP Labs On Lee, memiliki masalah besar dalam segi teknologi, yaitu kesenjangan teknologi. Hal tersebut disampaikannya dalam CSIS Global Dialogue 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta pada Senin (16/9) ini.

"Satu hal yang mudah saya lihat di Indonesia adalah perbedaan antara orang kaya dan miskin itu besar. Hal ini juga terjadi dalam teknologi. Ini adalah apa yang dinamakan digital divide," tutur Lee.

Lee melanjutkan, digital divide berarti adanya kesenjangan distribusi akses, penggunaan, dan pengaruh teknologi pada daerah-daerah di Indonesia. Dia melanjutkan kesenjangan ini dapat disebabkan oleh ada atau tidaknya akses, besar atau kecilnya bandwidth, baik atau buruknya kemampuan sumber daya manusia, dan terakhir sekaligus yang paling penting bagi Lee adalah mindset,

"Saya sering bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan yang saya temui adalah meskipun kota-kota tersebut memiliki kemampuan, bandwidth, dan sumber daya, mereka memiliki mindset yang salah," pungkas Lee.

Lee telah melihat bagaimana teknologi telah berevolusi secara bertahap. Dahulu ada komputer desktop yang besar tetapi kini telah menjadi laptop yang ramping. Internet awalnya tidak digunakan untuk jual beli, media sosial, dan lain sebagainya. Hal ini juga berlaku untuk komputasi cloud, gawai, dan bahkan artificial intelligence (AI).

"Orang-orang telah mengerti secara garis besar dan telah menggunakan teknologi-teknologi ini tetapi mereka masih belum memahami makna dari keberadaan mereka," tutur Lee.

Dia menjelaskan bahwa generasi Z, milenial, dan sebagian generasi X merupakan digital native atau mereka yang mengerti dan menggunakan rutin teknologi-teknologi yang ada. Generasi X dan Baby Boomer menjadi digital immigrant yang belum atau tidak menjadikan teknologi menjadi bagian utama kehidupannya. Keberadaan digital immigrant menjadi permasalahan yang dapat memicu digital divide.

Lee memiliki teori-teorinya sendiri bagaimana digital immigrant bisa masih ada.

Dari segi manusianya, Lee melihat masih adanya ketidakpedulian yang disebabkan dari perasaan bahwa teknologi tersebut tidak berpengaruh pada dirinya. Kemudian ada pula mindset yang tertutup untuk hal baru, kekurangan kemampuan digital, dan terlambatnya beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Selain itu, ada pula mereka yang tidak sabar. Ketika melihat bagaimana teknologi gagal digunakan atau rumit, mereka langsung tidak lagi berniat mempelajarinya.

Sedangkan dari segi eksternal, Lee melihat adanya unsur-unsur seperti kurangnya infrastruktur, penerapan dan perkembangan teknologi yang sulit, dan mahalnya biaya.

Sebagao solusi, Lee memaparkan bagaimana mindset masa kini memiliki prbedaan dengan sebelumnya.

"Secara tradisional, kita hanya perlu untuk minimum bisa membaca dan menulis tetapi di jaman yang serba komputasi seperti sekarang, setiap orang setidaknya harus bisa membaca, menulis, dan berpikir secara komputasional," ujarnya.

Kemudian, sebagai kiat-kiat lain memberikan solusi, Lee menyebutkan ada dua poin terpenting, taitu investasi dan edukasi. Ini karena bagi Lee, kedua hal ini akan saling berkaitan.

Untuk itu, Lee memberi tips saat ingin berinvestasi di bidang teknologi.

"Pertama, teknologi harus telah mendapat dukungan dari pemerintah. Kemudian, teknologi juga harus hadir dengan riset akademik dan pengajaran yang tepat, terakhir adalah bagaimana teknologi telah diimplementasikan dalam industri. Jika semua ini sudah terpenuhi, itulah saat paling aman bagi anda berinvestasi teknologi tersebut," tuturnya.

Sedangkan untuk edukasi, Lee berharap ada campur tangan industri dan akademik.

"Menurut saya edukasi itu nomor satu. Seharusnya sudah sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga kuliah masyarakat dikenalkan dengan teknologi. Kemudian juga diperlukan industri baik yang bisa menjadi panjang tangan membantu dalam bidang akademik," tandasnya.

Reporter Magang: Joshua Michael

(mdk/faz)

TOPIK TERKAIT