Mata Uang Kripto Ternyata Tak Ramah Lingkungan

Mata Uang Kripto Ternyata Tak Ramah Lingkungan
TEKNOLOGI | 10 Juli 2019 13:00 Reporter : Indra Cahya

Merdeka.com - Mata uang kripto, dengan Bitcoin sebagai salah satu varian paling populernya, merupakan salah satu alternatif baru dalam investasi. Keunggulannya adalah desentralisasi dan nilai tukar yang tinggi. Namun ada harga mahal yang dibayar, yakni kerusakan lingkungan.

Studi terbaru menunjukkan kalau konsumsi energi Bitcoin sangat boros luar biasa. Studi tersebut bahkan menyebut bahwa energi yang dihabiskan untuk transaksi Bitcoin tiap harinya lebih besar dari konsumsi energi negara Swiss.

Seperti kita ketahui, penggunaan listrik berlebih berdampak negatif pada lingkungan, karena jumlah bahan bakar fosil yang digunakan untuk menghasilkan listrik juga melahirkan gas rumah kaca dan polusi udara.

Mengutip laman The Verge via Tekno Liputan6.com, peneliti dari Universitas Cambridge memperkenalkan tool online bernama Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index atau CBECI. Tool ini bisa memperkirakan estimasi penggunaan energi Bitcoin secara real time.

Hasil kalkulasi CBECI menunjukkan jaringan Bitcoin mengkonsumsi lebih dari 7 gigawatt listrik. Angka ini setara dengan 64 TWh (terawatt per jam), yang lebih besar dari penggunaan energi Swiss yang sebesar 58 TWh.

Ini berarti, 0,25 persen konsumsi elektrik dunia terserap oleh Bitcoin. Jika diletakkan dalam perspektif, angka ini setara dengan konsumsi energi dari heater ceret kopi elektrik di Inggris selama 11 tahun.

Memang sudah bukan hal mengejutkan kalau Bitcoin memakan banyak sumber daya listrik. Penambangan Bitcoin di seluruh dunia membutuhkan komputer canggih dengan jumlah yang tidak sedikit, dalam kondisi tak pernah mati.

Namun, angka yang dihasilkan CBECI ini belum akurat karena rentangnya tinggi, yaitu berkisar dari 22 TWh hingga 150 TWh.

Sebagai perbandingan, ada juga angka perkiraan konsumsi listrik oleh bitcoin yang dirilis oleh Digiconomist, yang memperkirakan konsumsi listriknya mencapai 70 TWh, atau 6 TWh lebih besar dari CBECI, yang mana tentu lebih mengerikan.

Di sisi lain yang luput juga dari perhitungan, adalah banyaknya penambang Bitcoin yang menggunakan jalan ilegal. Mereka bergerak dengan meretas energi subsidi pemerintah dan memanfaatkannya untuk menambang Bitcoin Tak cuma menghabis-habiskan energi, namun mereka tak harus membayar biaya listrik tersebut.

Sumber: Liputan6.com
Reporter: Athika Rahma (mdk/idc)

Baca juga:
Mengenal Libra, Mata Uang Kripto Facebook dan Bahayanya
Aturan Terbit, Platform Investasi Bitcoin Bakal Tanamkan Modal di Indonesia
Facebook Akan Rilis Libra, Mata Uang Kripto Saingan Bitcoin
Rayakan Bitcoin Pizza Day, Upbit Indonesia: Bitcoin Bisa Ditukar dengan Vocer Pizza
Indodax, Platform Jual-Beli Aset Digital, Kasih Hadiah Mobil, Ada Apa?
Pemerintah Persilakan Masyarakat Miliki Bitcoin dkk Selama Tak Untuk Pembayaran
Gopax, Platform Jual Beli Kripto Masuk Pasar Indonesia

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami