Hasil Riset

Mayoritas UMKM Belum Berbadan Hukum, Fintech P2P Lending Jadi Andalan Pendanaan

Mayoritas UMKM Belum Berbadan Hukum, Fintech P2P Lending Jadi Andalan Pendanaan
Modalku. ©Liputan6.com/Bawono Yadika
TEKNOLOGI | 31 Maret 2021 09:57 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending, bersama DSInnovate melakukan riset untuk mendapatkan pemahaman dan perspektif mengenai bagaimana layanan fintech P2P lending Modalku dapat berkontribusi terhadap sektor UMKM, terutama pada sisi ekonomi dan sosial.

Hasil riset menunjukkan pelaku bisnis UMKM dapat mengatur arus kas lebih lancar, meningkatkan produksi bisnis, dan menjaga kelancaran operasional harian bisnis melalui pendanaan dari Modalku. Temuan ini didapat melalui survei online dan diskusi melalui telepon terhadap 350 pelaku UMKM peminjam Modalku.

Iwan Kurniawan, Co-Founder & COO Modalku, menjelaskan selama 5 tahun Modalku hadir di Indonesia, banyak sekali perkembangan terjadi baik dari sisi fintech maupun UMKM itu sendiri.

"Melalui terobosan dan pendekatan berbasis teknologi serta penilaian kelayakan kredit yang sesuai dengan karakteristik UMKM, sektor fintech terutama P2P lending memiliki peran penting mendukung pelaku UMKM yang belum tersentuh akses pendanaan lembaga keuangan konvensional," ujar Iwan dalam keterangannya, kemarin (30/3).

Penelitian ini dilakukan terhadap UMKM yang bergerak pada berbagai sektor, seperti perdagangan ritel (29 persen); sektor tekstil, perlengkapan, dan produk kulit (17 persen); dan produk makanan, minuman, dan tembakau (17 persen). Jika dilihat dari periode waktu pendirian usaha, 83 persen dari usaha responden berusia hingga 7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sektor UMKM memiliki potensi berkelanjutan untuk jangka waktu panjang.

Temuan menariknya, 82 persen responden belum memiliki badan usaha PT/CV. Hal inilah yang seringkali menjadi hambatan ketika mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional. Hampir 50 persen usaha mikro memandang bahwa perizinan usaha menjadi penghambat, sementara lebih 50 persen usaha mikro memandang laporan keuangan masih membatasi. Dari total responden, hanya 27 persen pelaku UMKM yang pernah mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional.

Modalku menjadi salah satu alternatif pembiayaan untuk kebutuhan modal usaha responden. Alasan mengajukan pinjaman ke Modalku cukup beragam, terutama syarat pengajuan pinjaman tanpa agunan (41,7 persen) dan pencairan dana pinjaman yang cepat (28,8 persen). Lebih dari 50 persen pemilik usaha UMKM menggunakan pinjaman dari Modalku untuk membeli bahan baku atau perlengkapan untuk tempat usahanya. Mereka berpendapat membeli bahan baku dalam jumlah besar merupakan hal penting untuk menunjang produksinya.

Meningkatnya kesempatan UMKM untuk memperoleh pendanaan dari P2P lending termasuk Modalku berdampak positif bagi berjalannya bisnis pelaku UMKM. Pertama, dari sisi pengelolaan arus kas, pendanaan dapat mendukung UMKM dalam mengelola aliran kasnya untuk kebutuhan operasional usaha dan menambah stok barang (82,6 persen).

Kedua, dari sisi pengembangan usaha, pendanaan dapat meningkatkan alur produksi UMKM dan meningkatkan keuntungan usahanya (82,6 persen). Selain itu, lebih dari 78 persen pelaku UMKM setuju, tidak mendapatkan pinjaman dari Modalku cukup berdampak pada kesuksesan usaha mereka, seperti pendapatan lebih rendah, terhambatnya performa bisnis, ketidakstabilan arus kas, dan kesulitan dalam operasional.

Baca Selanjutnya: Pinjaman hingga Rp 2 Miliar...

Halaman

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami