Menkominfo buka blokir setelah Telegram bersihkan konten negatif

Menkominfo buka blokir setelah Telegram bersihkan konten negatif
CEO Telegram datangi Kemenkominfo. ©2017 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
TEKNOLOGI | 3 Agustus 2017 16:24 Reporter : Dian Rosadi

Merdeka.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan pihaknya akan kembali membuka akses untuk Telegram. Hal ini akan dilakukan setelah pihak Telegram membersihkan konten-konten negatif dari platformnya.

"Justru nanti mau dibuka lagi Telegram. Sekarang sedang dibuatkan tata cara untuk berinteraksi, berkomunikasi antara Indonesia dengan Telegram secara rinci. Itu selesai minggu depan, setelah selesai itu, ya akan dibuka lagi," ujar Rudiantara kepada wartawan di sela acara pameran dan kompetisi filateli yang digelar di Trans Hotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Kamis (3/8).

Kemkominfo telah menutup akses Telegram lantaran banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan negatif seperti propaganda radikalisme, terorisme dan paham kebencian.

Rudiantara mengatakan, pasca pertemuannya dengan CEO Telegram, Pavel Durov pada Selasa (1/8) lalu, pihak Telegram menyampaikan akan segera membersihkan platform Telegram dari konten-konten negatif seperti radikalisme dan terorisme.

" Bukan Saya yang bicara tapi Pavel yang bicara mengatakan dia akan membersihkan Telegram dari konten konten radikalisme dan terorisme. Itu langkah pertama," katanya.

Menurut Rudiantara, langkah selanjutnya pihaknya akan berupaya membina komunikasi dengan pihak Telegram. Sehingga ketika ada konten-konten negatif yang tersebar dapat segera dilakukan tindakan.

Lebih lanjut Rudiantara mengatakan pihaknya juga telah bertemu dengan pengelola jenis platform lainnya seperti Facebook, Google untuk bersama-sama menangkal konten-konten negatif yang tersebar di platform mereka.

"Jadi ke depannya adalah bagaimana kita membina komunikasi dengan semuanya. Kemarin saya juga ketemu sama Facebook, sama, saya juga bilang. Jadi bukan mau ditutup yang lain, mau ditutup itu kalau tidak ada kerjasama, kalau terjadi pembiaran. Kalau kerjasama lebih bagus, kan apa alasannya ditutup," pungkasnya.

Sebelumnya, Kemkominfo telah menutup akses Telegram lantaran banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dampak terhadap pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya layanan Telegram versi web. (mdk/bal)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami